Kenapa saya berpikir ulang memilih Jokowi

Beberapa waktu yang lalu, saya balik dari Semarang menuju Jogja naik kendaraan pribadi. Perjalanan yang seharusnya menjadi 3 jam harus molor beberapa puluh menit, karena di daerah sekitar Kopi Eva ada kecelakaan beruntun yang belakangan saya ketahui dari berita; memakan beberapa korban jiwa. Sebuah truk yang kelebihan muatan rem-nya blong dan menabrak bis, mobil pribadi, dan 3 sepeda motor.

Jalanan macet, karena satu jalur ditutup jadi harus gantian. Saya lihat saat itu jalanan sedang diperbaiki. Mungkin saja dalam proses diperlebar. Tapi seingat saya, setiap tahun jalanan di lintas pulau Jawa punya agenda tahunan untuk diperbaiki. Entah kenapa.

Di pinggir jalan, tergeletak sebuah bangkai motor yang bentuknya sudah nggak karuan. Lalu berurutan, sebuah bus yang kacanya ringsek, dan mobil lain –kalo ga salah minibus yang bagian depannya melesak kedalam.

Saat itu adalah salah satu dari momen kegeraman saya, terhadap Indonesia. Saya membayangkan bahwa besok pagi di Media, yang terbahas adalah mengenai siapa supir yang bersalah, apakah supirnya lari, dan berapa korban jiwa. Sehari kemudian, berita kecelakaan itu menguap, berganti dengan jejalan berita yang lain. Continue reading

Advertisements