Kenapa saya berpikir ulang memilih Jokowi

Beberapa waktu yang lalu, saya balik dari Semarang menuju Jogja naik kendaraan pribadi. Perjalanan yang seharusnya menjadi 3 jam harus molor beberapa puluh menit, karena di daerah sekitar Kopi Eva ada kecelakaan beruntun yang belakangan saya ketahui dari berita; memakan beberapa korban jiwa. Sebuah truk yang kelebihan muatan rem-nya blong dan menabrak bis, mobil pribadi, dan 3 sepeda motor.

Jalanan macet, karena satu jalur ditutup jadi harus gantian. Saya lihat saat itu jalanan sedang diperbaiki. Mungkin saja dalam proses diperlebar. Tapi seingat saya, setiap tahun jalanan di lintas pulau Jawa punya agenda tahunan untuk diperbaiki. Entah kenapa.

Di pinggir jalan, tergeletak sebuah bangkai motor yang bentuknya sudah nggak karuan. Lalu berurutan, sebuah bus yang kacanya ringsek, dan mobil lain –kalo ga salah minibus yang bagian depannya melesak kedalam.

Saat itu adalah salah satu dari momen kegeraman saya, terhadap Indonesia. Saya membayangkan bahwa besok pagi di Media, yang terbahas adalah mengenai siapa supir yang bersalah, apakah supirnya lari, dan berapa korban jiwa. Sehari kemudian, berita kecelakaan itu menguap, berganti dengan jejalan berita yang lain. Continue reading

Advertisements

Untuk Jogja, kota yang (belum) memanusiakan manusianya.

Surabaya

Trotoar di Surabaya, bukan Singapore.

Saat saya menulis ini, saya sedang berada di Surabaya. Kota yang beberapa tahun lalu, terkenal dengan image panas, semrawut, kumuh dan temperamental. Tapi itu dulu. Sekarang sungguh berbeda. Sekarang saya bisa berjalan di trotoar selebar 6 meter yang ada di hampir semua jalan protokol. Hal yang dulu saya kira hanya bisa saya jumpai di Eropa, Jepang, Korea, atau yang terdekat ya Singapura.

Kalau kemewahan anda adalah berada dalam kendaraan ber-AC dengan panel canggih, berarti anda berbeda dengan saya. Kemewahan saya adalah bisa berjalan kaki di pinggir jalan, minim polusi dan diteduhi oleh pepohonan lebat, lalu bisa kemana saja dengan subway train, atau bis kota yang tepat waktu. Setengahnya saya sudah bisa menikmati itu di Surabaya. Bagian subway train, tahun ini beritanya sudah mulai dibangun dan akan selesai dalam 5 tahun lagi.

Kalau kemewahan anda artinya melihat warna-warni ratusan billboard yang menusuk mata dengan tagline-tagline cantik persuasif tapi tanpa jeda, berarti kita berbeda. Kemewahan saya adalah langit biru dan pegunungan yang masih tersembul disela pencakar langit, yang mengingatkan bahwa manusia adalah astronot pada pesawat luar angkasa raksasa bernama bumi. Bukan semata zombie target ratusan baliho pada setiap perempatan, atau jejalan sampah visual yang menyerang dari segala arah begitu kita keluar dari rumah.

Putus asa dengan Indonesia. Itu perasaan yang hampir selalu menyentil setiap saya pulang dari negara lain, yang punya infrastruktur transportasi publik yang bagus. Tidak hanya karena kondisi fisik tentang ketidakberadaan semua infrastruktur tersebut, tapi sebagian besar dari kita, tidak peduli atas hal ini –karena mereka tidak tahu.

“Jangan bandingkan dong dengan negara maju lain!”
“Ya nggak fair lah kalo bandingin sama jepang!”

Sekarang kita punya Surabaya. Sekarang kita bisa mencontohkan kepada semua orang di Indonesia –tanpa harus membawa-bawa nama Seoul, Kyoto, atau Amsterdam. Ini adalah kota yang memanusiakan manusianya. Adakah kota lain di Indonesia yang melakukan hal sama? Saya belum cukup data. Mungkin Bandung beberapa tahun lagi dengan Ridwan Kamil-nya? Kita lihat saja.

Disisi lain, saya –yang ber-KTP Jogja merasa bahwa Jogja gitu-gitu saja. Malah tambah nggak karuan. Saya merasakan banyak hal berubah menjadi positif ketika Pak Herry Zudianto menjabat walikota. Sepeninggal beliau; mentok. Seakan Jogja adalah kota autopilot yang ditinggalkan oleh “pelayan masyarakat”-nya.

Cobalah pergi ke UGM, lalu melewati Jalan Kaliurang dan menengok utara. Beberapa tahun lalu, hampir setiap pagi kita bisa melihat Gunung Merapi dengan indahnya bertengger di ujung sana. Sekarang, hanya ada billboard-billboard raksasa melintang ditengah jalan. Mobil-mobil semakin memenuhi jalan, serta motor-motor yang saling menyerobot satu sama lain.

Oh btw, percaya nggak kalau sebenarnya semakin macet jalan, semakin untung saya? Continue reading

The Chronicles of Jogja – Ruwetnya Jogja Kini

Image

The Chronicles of Jogja – Ruwetnya Jogja kini.

Ya, saya tahu– Chronicles tidak bisa diartikan ruwet. Tapi sungguh; dulu Jogja tidak seruwet ini. Pernah ngitung nggak, berapa dulu perjalananmu dari rumah ke sekolah/kantor, dibanding 2-3 tahun terakhir ini? Saya sih merasakan banget bedanya 😦

Berturut-turut semalam dan sore ini ngobrol dengan teman yang cukup lama tinggal di Eropa; yang satu udah balik ke Indonesia 6 bulan yang lalu, satunya baru balik dalam hitungan hari. Pendapat mereka lebih ekstrem lagi dalam ngerasa ruwetnya Jogja sekarang, karena secara ngga langsung pasti membandingkan dengan kota lain (yang ada di Eropa).

Pernah nggak, lihat anak kecil dibawa naik motor, duduk didepan dipegangin satu tangan kiri, dan satu tangan kanan bapak/ibu/om-nya itu megang stang motor?

Pernah nggak, lihat anak kecil berdiri di atas jok motor, diapit oleh bapak ibunya, tanpa helm dan sambil ketawa-ketawa? Continue reading

#JogjaTanpaBaliho | #JogjaBerhentiNyaman

Sebentuk hashtag sederhana ini ini, #JogjaTanpaBaliho dan #JogjaBerhentiNyaman menyentil saya untuk menulis. Sedemikian kuat rupanya daya ungkitnya hingga bisa menggerakkan jemari ini untuk mengetikkan kata per kata, yang biasanya sungguh malas — bahkan *duh* masih berhutang artikel bersambung tapi tak kunjung selesai 😦

Entah siapa yang memulainya, tapi saya sekelebat melihatnya pada cuitan @killthedj yang ditimpali oleh @dindasays, keduanya teman yang sudah sejak lama saya kenal.

Mata saya mulai lelah ketika menyusuri jalanan Jogja. Bukan karena debu atau polusi udara, walaupun belakangan ini mungkin juga bertambah intensitasnya. Bukan juga karena cahaya merah yang terpendar dari lampu lalu lintas yang seakan semakin lama terpampang karena bertambahnya kemacetan. Ini karena terlalu banyak sampah visual. Ya, lebih tepatnya baliho, billboard, ataupun papan nama yang berserakan, menggantung pada tiang-tiang vertikal disetiap sudut jalan yang selalu saya lewati tiap hari.

Segala logo, gambar, maupun copy text seakan berteriak: “lihat aku, baca aku, ingat aku, BELI AKU!”

Ketika baliho-baliho itu masih hanya satu-dua pada tiap ruas jalan, teriakan itu akan terdengar dengan jelas. Tapi kini, ketika semua sudut dan ruas terisi baliho, dan semua berteriak, maka yang terdengar hanyalah seperti suara cakap-cakap manusia yang bersahutan dalam stasiun atau bandara. Terdengar, tapi tak bisa lagi tercerna oleh manusia biasa. Lalu apa gunanya?

Oh ya, ini adalah artikel yang hipokrit. Sederhana saja; saya menulis sepenuhnya mengenai #JogjaTanpaBaliho, tapi bulan lalu — selama 3 bulan berturut-turut perusahaan saya menyewa space billboard di pojokan ruas salah satu perempatan paling sibuk di kota Jogja. Dan bisa saja, tahun depan keputusan itu akan diambil lagi. Mungkin.

Tapi saya akan bahagia, jika timbul aturan baru yang melarang adanya baliho di Jogja. Benar-benar #JogjaTanpaBaliho. Butuh proses mungkin, seperti aturan baru di DKI Jakarta; izin untuk billboard baru tidak akan dikeluarkan lagi, dan tidak ada lagi perpanjangan izin atas baliho yang sudah ada.

Jogja yang saya impikan adalah dimana semua neon sign serta papan nama juga harus dibuat sejajar dan menempel dengan bangunan, tanpa ada yang melintang.

Trotoar yang lebar sehingga semua orang bisa bergerak nyaman di sisi jalan tanpa harus diklakson dan terhimpit antara motor atau mobil dan warung pinggir jalan. Jogja yang (kembali) berhati Nyaman.

Manusia-manusia yang dengan senang hati berjalan. Ya, berjalan kaki, tanpa harus memutar kunci starter kendaraan bermotor dan membakar BBM ketika hendak berpindah hanya dalam radius beberapa ratus meter.

Dan lebih jauh lagi; MRT. Kereta listrik yang menghubungkan antara semua titik keramaian di Jogja, dengan stasiun tiap 3 kilometer. Bukankah ‘sister city’ kita adalah Kyoto yang telah lama punya infrastruktur public transport yang bagus?

Kota yang maju adalah bukan kota dimana semua orang berkendaraan pribadi, tapi ketika orang berduit mau naik transportasi publik.

Kota yang keren adalah bukan ketika semua pelaku bisnis memasang sign melintang di ruas jalan, dan semakin banyak baliho seiring semakin bertambahnya modal (dan masih ketambahan muka pejabat/caleg narsis) — tapi ketika semua pelaku bisnis bisa bersaing dengan kualitas produk yang baik dan branding yang cerdas tanpa sampah visual.

Mustahil? Tidak.
Sulit? Iya.

Jakarta sudah berbenah di era Jokowi-Ahok ini, Surabaya sudah pula dibawah pimpinan Tri Rismaharini.

Jogja yang katanya punya stock intelektual bejibun, kapan mulai?