Personal Electric Vehicle. Era Baru Transportasi (?)

(Personal) Electric Vehicle.

One Wheel Electric Skateboard

One Wheel Electric Skateboard

Sejak beberapa bulan lalu, entah kenapa aku sedikit terobsesi dengan subject ini. Setiap ada article atau produk yang berkaitan dengan PEV, aku pasti menyempatkan untuk membacanya. Dan kali ini, aku berpikir; kenapa tidak untuk mulai menuliskannya?

Aku percaya bahwa dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi, dan tingkat kepedulian kita atas polusi juga semakin besar, maka dalam beberapa (belas) tahun lagi hampir semua kendaraan akan bertransformasi dari bermesin combustion (berbahan bakar bensin/solar/aftur dkk) menjadi listrik.

Munculnya EV sebenarnya sudah cukup lama, sejak pertengahan abad 19. Bahkan, faktanya; pada tahun 1912 di US, jumlah mobil listrik LEBIH BANYAK dari mobil berbahan bakar bensin. Jadi, EV sama sekali bukanlah teknologi yang baru. Continue reading

Advertisements

On Your First 5k Run

Few days before:
I can do it. I’ll run 5k

The day before:
Tomorrow I’ll go 5k. I’ll sleep early

11pm:
I can’t sleep.

1am:
zzzzz…

10 mins before:
(Tighten your shoes and start running app.)
I’ll do it.

6am:
(Start running)

500 meters:
Am I fast enough? It seems I’m going too slow. Continue reading

Snowboarding di Muju, Korea Selatan (2)

Ternyata bukan 3 kategori. Setelah nengok foto guideline resort, aku baru inget kalo Muju punya 4 jenis track atau slope, yaitu; beginner, intermediate, advanced, dan expert. Sebagai newbie, beraninya ya jelas baru track yang beginner dong. Itupun baru hari kedua.

Menuju ke garis start slope, ada beberapa jalur gondola (kereta gantung) yang bisa dinaiki. Lebih jelasnya ada di peta ini

Awalnya aku mencoba jalur Eastern dengan naik Gondola Boat. Jalur ini panjangnya hanya 340m dan Continue reading

Snowboarding di Muju, Korea Selatan (1)

Licin. Curam. Dingin. Suara angin yang mendesau dalam suhu minus 8 derajat celcius. Mendadak aku tersadar kalau didepan sana track es akan berbelok tajam kekanan, dan aku meluncur terlalu cepat. Dan tidak ada rem dalam snowboard ini. Yang bisa dilakukan adalah berbelok dan menggunakan sisi papan ini untuk mengikis salju, mengurangi kecepatan.

Dan untuk berbelok sama dengan memindahkan berat badan ke kaki depan, lalu membuat menggeser kaki belakang kesamping, sembari menjaga sudut badan selalu condong ke belakang agar tidak terpelanting. Dan refleksku tidak cukup cepat untuk menjaga keseimbangan, mengurangi kecepatan, dan tetap mengarahkan badan ini ke sudut yang benar. Sejenak aku melayang. Beberapa mikro detik, lalu disusul hentakan keras di bahu kanan, sikut kiri, dan punggung secara berurutan. Aku jatuh terhempas, pada kesadaran penuh.

Continue reading

#JogjaTanpaBaliho | #JogjaBerhentiNyaman

Sebentuk hashtag sederhana ini ini, #JogjaTanpaBaliho dan #JogjaBerhentiNyaman menyentil saya untuk menulis. Sedemikian kuat rupanya daya ungkitnya hingga bisa menggerakkan jemari ini untuk mengetikkan kata per kata, yang biasanya sungguh malas — bahkan *duh* masih berhutang artikel bersambung tapi tak kunjung selesai 😦

Entah siapa yang memulainya, tapi saya sekelebat melihatnya pada cuitan @killthedj yang ditimpali oleh @dindasays, keduanya teman yang sudah sejak lama saya kenal.

Mata saya mulai lelah ketika menyusuri jalanan Jogja. Bukan karena debu atau polusi udara, walaupun belakangan ini mungkin juga bertambah intensitasnya. Bukan juga karena cahaya merah yang terpendar dari lampu lalu lintas yang seakan semakin lama terpampang karena bertambahnya kemacetan. Ini karena terlalu banyak sampah visual. Ya, lebih tepatnya baliho, billboard, ataupun papan nama yang berserakan, menggantung pada tiang-tiang vertikal disetiap sudut jalan yang selalu saya lewati tiap hari.

Segala logo, gambar, maupun copy text seakan berteriak: “lihat aku, baca aku, ingat aku, BELI AKU!”

Ketika baliho-baliho itu masih hanya satu-dua pada tiap ruas jalan, teriakan itu akan terdengar dengan jelas. Tapi kini, ketika semua sudut dan ruas terisi baliho, dan semua berteriak, maka yang terdengar hanyalah seperti suara cakap-cakap manusia yang bersahutan dalam stasiun atau bandara. Terdengar, tapi tak bisa lagi tercerna oleh manusia biasa. Lalu apa gunanya?

Oh ya, ini adalah artikel yang hipokrit. Sederhana saja; saya menulis sepenuhnya mengenai #JogjaTanpaBaliho, tapi bulan lalu — selama 3 bulan berturut-turut perusahaan saya menyewa space billboard di pojokan ruas salah satu perempatan paling sibuk di kota Jogja. Dan bisa saja, tahun depan keputusan itu akan diambil lagi. Mungkin.

Tapi saya akan bahagia, jika timbul aturan baru yang melarang adanya baliho di Jogja. Benar-benar #JogjaTanpaBaliho. Butuh proses mungkin, seperti aturan baru di DKI Jakarta; izin untuk billboard baru tidak akan dikeluarkan lagi, dan tidak ada lagi perpanjangan izin atas baliho yang sudah ada.

Jogja yang saya impikan adalah dimana semua neon sign serta papan nama juga harus dibuat sejajar dan menempel dengan bangunan, tanpa ada yang melintang.

Trotoar yang lebar sehingga semua orang bisa bergerak nyaman di sisi jalan tanpa harus diklakson dan terhimpit antara motor atau mobil dan warung pinggir jalan. Jogja yang (kembali) berhati Nyaman.

Manusia-manusia yang dengan senang hati berjalan. Ya, berjalan kaki, tanpa harus memutar kunci starter kendaraan bermotor dan membakar BBM ketika hendak berpindah hanya dalam radius beberapa ratus meter.

Dan lebih jauh lagi; MRT. Kereta listrik yang menghubungkan antara semua titik keramaian di Jogja, dengan stasiun tiap 3 kilometer. Bukankah ‘sister city’ kita adalah Kyoto yang telah lama punya infrastruktur public transport yang bagus?

Kota yang maju adalah bukan kota dimana semua orang berkendaraan pribadi, tapi ketika orang berduit mau naik transportasi publik.

Kota yang keren adalah bukan ketika semua pelaku bisnis memasang sign melintang di ruas jalan, dan semakin banyak baliho seiring semakin bertambahnya modal (dan masih ketambahan muka pejabat/caleg narsis) — tapi ketika semua pelaku bisnis bisa bersaing dengan kualitas produk yang baik dan branding yang cerdas tanpa sampah visual.

Mustahil? Tidak.
Sulit? Iya.

Jakarta sudah berbenah di era Jokowi-Ahok ini, Surabaya sudah pula dibawah pimpinan Tri Rismaharini.

Jogja yang katanya punya stock intelektual bejibun, kapan mulai?