Kenapa saya berpikir ulang memilih Jokowi

Beberapa waktu yang lalu, saya balik dari Semarang menuju Jogja naik kendaraan pribadi. Perjalanan yang seharusnya menjadi 3 jam harus molor beberapa puluh menit, karena di daerah sekitar Kopi Eva ada kecelakaan beruntun yang belakangan saya ketahui dari berita; memakan beberapa korban jiwa. Sebuah truk yang kelebihan muatan rem-nya blong dan menabrak bis, mobil pribadi, dan 3 sepeda motor.

Jalanan macet, karena satu jalur ditutup jadi harus gantian. Saya lihat saat itu jalanan sedang diperbaiki. Mungkin saja dalam proses diperlebar. Tapi seingat saya, setiap tahun jalanan di lintas pulau Jawa punya agenda tahunan untuk diperbaiki. Entah kenapa.

Di pinggir jalan, tergeletak sebuah bangkai motor yang bentuknya sudah nggak karuan. Lalu berurutan, sebuah bus yang kacanya ringsek, dan mobil lain –kalo ga salah minibus yang bagian depannya melesak kedalam.

Saat itu adalah salah satu dari momen kegeraman saya, terhadap Indonesia. Saya membayangkan bahwa besok pagi di Media, yang terbahas adalah mengenai siapa supir yang bersalah, apakah supirnya lari, dan berapa korban jiwa. Sehari kemudian, berita kecelakaan itu menguap, berganti dengan jejalan berita yang lain.

Dan memang begitulah yang terjadi. Kecelakaan di Indonesia tidak semenarik berita penembakan massal di sekolah US, atau berita serangan di Gaza. Ini bukan perkara bahwa kejadian disana tidak penting. Tapi hey, sama-sama ada nyawa yang hilang. Bedanya adalah bahwa news value atas pembunuhan massal dan serangan Gaza lebih tinggi, karena pembaca bisa membahas tentang kekejian Israel, atau kondisi kejiwaan pembunuh di US.

Saya geram, ketika saya mendekonstruksi kejadian kecelakaan tersebut dan menjumpai bahwa sebenarnya paragraf-paragraf awal tulisan ini tidak perlu terjadi. Dan tolong. Jangan bilang bahwa kecelakaan adalah takdir.

Ketika sebuah supir mengendarai truk dengan rem blong pada jalanan berlubang sempit yang sedang diperbaiki lalu menyebabkan kecelakaan beruntun, bisa kita telaah lagi sebabnya.

1) Kenapa tiap tahun jalan harus diperbaiki? Jika memang kualitas aspal yang dipakai itu bagus, jalan tidak harus dibenerin terus-terusan tiap tahun. Di negara lain yang lebih maju, mana ada perbaikan aspal tiap tahun.

2) Kenapa ada truk rem-nya blong? Bagaimana proses KIR-nya? Setiap 6 bulan sekali ada pengecekan rutin untuk kendaraan dengan bak terbuka. Tujuannya adalah agar setiap kendaraan niaga, selalu dalam keadaan baik sehingga lancar dan tidak membahayakan.

3) Kenapa bisa ada truk kelebihan muatan yang berjalan di jalan raya? Ini bukan hanya perkara korupsi jembatan timbang, tapi lebih jauh lagi ini perkara infrastruktur jalanan yang seadanya. Jalan sempit, naik turun, boros BBM, sehingga seringkali truk dan kendaraan niaga lain memilih mengangkut barang melebihi batas muatan maksimalnya.

4) Kenapa diperlukan waktu 3 jam dari Semarang ke Jogja yang jaraknya hanya 126km? Kalau ada jalur kereta cepat yang menghubungkan 2 kota tersebut via Stasiun Tugu dan Stasiun Tuntang (stasiun di Semarang), ini adalah jarak yang bisa ditempuh hanya dalam waktu paling lama 90 menit.

5) Kenapa saya harus naik kendaraan pribadi? Kalau di Jogja ada jalur kereta MRT dari UGM ke Tugu dan di Semarang ada jalur dari Tuntang ke Undip, saya tidak perlu bawa mobil sendiri. Saya lebih menikmati naik transportasi umum — jika bisa lebih cepat sampai, dan tetap nyaman.

6) Kenapa saya harus ke Semarang? Lebih ekstrim lagi, jika kecepatan internet tinggi dan infrastrukturnya menyeluruh sampai ke semua kalangan, mungkin saja saya nggak perlu datang, tapi cukup dengan teleconference.

Negara ini, belum, atau tidak butuh membuat negara lain menjadi takut atau tunduk kepadanya. Tidak perlu. Negara ini belum selesai dengan urusan-urusan dalam negerinya yang njlimet dan mbulet.

Yang diperlukan adalah infrastruktur transportasi massal yang baik, pemerintahan yang transparan; dimana semua pengeluaran dan pemasukan bisa diakses oleh publik pada semua level birokrasi, serta internet yang cepat.

Negara ini juga butuh musik yang baik, produk tepat fungsi yang keren buatan lokal, dan film-film dalam negeri yang hebat untuk “menjajah” bangsa lain. Dengan begitu Indonesia akan dikenal, disegani, dibicarakan. Tapi tidak ditakuti.

Iya, balik lagi pemegang peranan penting adalah presiden, walaupun siapa saja Presidennya pasti nggak akan sesimpel itu “memperbaiki” Indonesia. Ini sungguh negara besar yang ruwet.

Setiap hari mendekati hari ini– 9 Juli, saya selalu berpikir ulang, lagi dan lagi tentang siapa yang akan saya pilih. Awalnya saya memilih Jokowi, karena melihat rekam jejak sejak dari Solo, lalu ketika beliau ke Jakarta yang notabene adalah miniatur Indonesia.

Dan saya tetap kembali ke pilihan awal memilih no 2 hari ini. Terlalu banyak alasannya, tapi yang terutama adalah bahwa Jokowi punya leadership-style yang diperlukan bangsa Indonesia saat ini.

Dia mau ngurusin hal-hal kecil yang njlimet, bersedia membangun infrastruktur transportasi publik yang masif, dan yang terpenting; transparansi birokrasi dengan teknologi informasi.

Ketika semua transparan dan akuntabel, celah untuk korupsi bisa dipersempit hingga titik nol. Pun ketika korupsi terjadi, maka kita akan melihatnya, dan bisa bergerak untuk mencegah atau melawannya.

Oh ya, dan bonus point: Menkominfonya bakal diganti :p

link kecelakaan Ambarawa >>
http://jateng.tribunnews.com/topics/kecelakaan-karambol-di-ambarawa/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s