Para Pengusik, dan Runtuhnya Bioskop Di Masa Depan

Disruptive. Kata ini bersliweran pada artikel-artikel mengenai manajemen, atau ulasan mengenai perusahaan dalam konteks kekinian. Entah darimana asal kata ini (saya terlalu malas untuk mencari di Google maupun Wikipedia), tapi saya mengambil terjemahan bebas sekehendak hati: Pengusik.

Siapakah para pengusik ini?
Dia bagaikan anak kemaren sore yang merasa bahwa dunia tidak kurang asyik untuk ditinggali. Alih-alih diam saja, dia malah membuat sesuatu yang bisa mengubah perilaku manusia. Mengubah dunia.

Dan ketika ada pengusik, maka selalu ada yang diusik. Dan kau tau? Pengusik ini sangat kejam, tidak kenal ampun. Lihatlah yang terjadi pada Barnes n Nobles, atau Borders, serta jaringan toko buku-toko buku lainnya yang merugi dan kemudian tutup, karena adanya format PDF, cikal bakal buku digital. Betapa ribuan buku berharga mahal yang tadinya membutuhkan rak-rak besar kini bisa dimampatkan dalam sebuah tablet segenggaman tangan. Dan buku-buku bisa didapatkan bahkan dihari yang sama ketika si penulis menyelesaikan tulisannya. Dan satu lagi; buku digital ini tidak bisa berdebu.

Lihatlah juga yang terjadi kini pada toko-toko kaset dan CD serta perusahaan rekaman yang dulu berjaya. Terimakasih pada format MP3 dan Napster yang telah membuat lagu-lagu dari seluruh belahan dunia bisa dikopi dan diedarkan secara gratis. Memang, yang terjadi adalah pembajakan masal, tapi akibatnya bukan dunia musik yang hancur, tapi pelaku industri distribusi dengan kanal penyimpan jadul berbentuk kaset dan CD-lah, yang terguncang hebat. Pengusik-pengusik ini sungguh luar biasa.

Dan tau nggak, sebenarnya ada pola yang berulang pada kejadian-kejadian ini? Iya, ada. Paling ngga menurut saya disini, yang nekad menyimpulkan. Ada beberapa buku sih yang menulis mengenai ini, salah satunya yang saya baca adalah karangan Rhenald Khasali: Cracking Zone. Tapi nggak akan saya bahas disini. Ini murni teori saya, walaupun mungkin terpengaruh juga oleh buku-buku yang saya baca.

Disruptive product/service selalu tampak tak terduga, tapi saya punya teori menarik: bahwa ini tidak akan mempengaruhi content, tapi hanya media saja. Coba saya bahas dari contoh-contoh yang terjadi:

1) Musik.

Dari dulu hingga sekarang musik adalah kumpulan nada yang bersuara indah. Content tetap sama, tapi media penyampainya berubah dari masa ke masa. Dulu orang datang ke konser atau mendengarkan radio transistor yang segede gaban. Musik adalah konsumsi komunal.

Lalu pada medio 80-an, Sony memperkenalkan Walkman. Lalu dunia berubah. Musik menjadi personal. Beberapa dekade kemudian, format MP3 muncul, sehingga musik bisa berpindah lintas negara dengan instan, tidak hanya lewat kaset atau CD. Channel distribusi berubah. Lalu iPod. Sekarang, kita bisa mendengarkan seorang artis di India bernyanyi secara realtime, tanpa ada studio recording yang mahal.

Tapi musik adalah musik. Music is content, and it will never change. Til the end of the world. Musik yang bagus akan didengarkan, yang tidak akan ditinggalkan.

2) Sastra.

Maksudnya adalah apapun yang ditulis, dan kemudian dibaca. Jaman lukisan batu, lalu ketika dulu jaman hieroglif mesir, atau kulit kayu dan papyrus di Jazirah Arab. Waktu itu sastra persebarannya terbatas, tergantung pada berapa orang yang sanggup menulis ulang material tersebut.

Revolusi Guttenberg lalu dimulai, lalu lanskap sastra berubah. Adanya mesin cetak membuat sastra menjadi material massal. Satu tulisan dengan mudah digandakan menjadi ratusan, bahkan ribuan kopi. Kitab suci yang tadinya bermacam-macam versi tiba-tiba distandarkan.

Hingga beberapa dekade kemudian, buku memegang peranan penting dalam perubahan dunia. Sebuah ideologi yang ditulis dalam sebuah buku oleh seseorang bisa membuat sebuah negara kolaps karena revolusi yang mengacu daripadanya.

Lalu PDF. Tatanan komersialisasi sastra cetak goncang. Toko buku-toko buku kolaps. Koran cetak berbondong-bondong berpindah ke media online. Gramedia, toko buku dan penerbit terbesar di Indonesia kini bahkan mulai beralih ke bisnis hotel dan Event Organizer.

Tapi sastra tetap sama. Apapun mediumnya, sebuah content karya sastra tulis yang bagus akan tetap dibaca, diteruskan, dan abadi. Coretan di dinding gua, yang ditulis ulang pada sebuah buku, dicapture dalam instagram, dan ditwitkan seseorang dan kemudian dibahas pada sebuah forum. Abadi.
Sedangkan tulisan sampah, hanya akan lewat saja, apapun mediumnya.

—–

Lalu apa yang akan berubah dalam waktu mendatang? Siapakah yang akan datang mengusik, dan perusahaan apa yang akan kolaps?

Jawabannya: Banyak.

Perusahaan yang sekarang raksasa mungkin beberapa tahun lagi akan tumbang. Ingat mesin ketik Brother? Atau Kodak? Mmmm… atau, Blackberry? Mereka dulu adalah raksasa.

Dan siapa lagi yang akan tumbang?
Menjawab pertanyaan ini, saya akan sedikit main api. Mencoba memprediksikan lanskap perubahan teknologi dunia.

Bagaimana kalau saya bilang, salah satunya adalah Jaringan bioskop bermerk dua digit?

Sekali lagi, content tidak akan hilang ditelan perubahan medium.

Ketika dulu Yesus mengumpulkan murid-muridnya untuk bercerita, atau ketika Muhammad menyampaikan wahyu yang turun padanya melalui rangkaian cerita, mereka berkontribusi pada sejarah pembentukan karya seni layar lebar yang kita nikmati sekarang.

Para pendongeng lampau akan memukau pendengarnya dengan cerita yang indah, lalu berkembang; murid-murid maupun pengikutnya akan memvisualisasikan narasi tersebut dalam gerak dan bahasa. Cikal bakal teater, karya sastra yang akhirnya kini bertransformasi menjadi seni layar lebar dengan visual effect yang maha canggih. Inti dari semuanya; cerita yang indah.

Lalu siapa yang akan mengusik jaringan bioskop yang super monopolis ini? Nyatanya, TV layar lebar beresolusi tinggi, jaringan cable TV juga tidak menyebabkan bioskop punah. Bukan begitu?

Betul. Walaupun sedikit banyak terpengaruh, tapi jaringan bioskop masih saja kuat. Tapi tidak dalam 10 tahun kedepan. Prediksi saya, dalam 5-7 tahun bioskop akan kehilangan massa, sedangkan sineas-sineas justru akan mengalami ledakan momentum.

Pernah denger Oculus Rift, perusahaan pembuat kacamata 3D? Menurut saya, ini erat kaitannya dengan tumbangnya bioskop dalam beberapa tahun kedepan.

Oculus Rift baru saja dibeli oleh Facebook, sebuah raksasa social media, yang sangat paham bahwa momentumnya hampir selesai, sehingga dia menyiapkan perubahan ini dengan membeli banyak perusahaan. Facebook paham sekali bahwa inti dari bisnisnya adalah medium yang menyampaikan content. Dia berjuang keras agar selalu menguasai distribusi content agar selalu dipakai oleh pengguna internet.

Huh? Apa hubungannya dengan bioskop?

Oculus Rift membuat orang bisa “masuk” kedalam dunia virtual. Pengguna benar-benar bisa berada didalam sebuah game perang, misalnya. Segala sudut akan bisa dilihat dengan cara menengok kekiri atau kanan, menengadah, maupun menunduk.

TV Digital beserta cable subscription memang tidak akan menyaingi bioskop, karena TV tidak akan memberikan pengalaman unik “nonton bareng” yang terbangun karena beberapa hal ini:

1) Satu fokus. Bioskop punya layar yang memenuhi sebagian besar area pandang penontonnya. Dan segala suara dan cahaya lain diredam sehingga suasana terbangun adalah interaksi eksklusif antara penonton dan film yang ditonton. TV dirumah masih memungkinkan adanya orang sliwar-sliwer, dan suara penjual bakso yang lewat.

2) Interaksi sekunder yang intim antara penonton dengan orang/pasangan disebelahnya. Walaupun hanya terbatas pada sentuhan dan bisikan, sensasi yang timbul tidak akan bisa direproduksi pada tayangan film lewat TV pada umumnya.

Tapi Oculus Rift, atau digital 3D immerse device yang lain dalam beberapa tahun kedepan akan menawarkan hal yang lebih hebat daripada sensasi “nonton bioskop”, yaitu:

1) Penonton akan immerse, masuk kedalam film yang diputar. Bayangkan dalam sebuah adegan perang, dimana penonton bisa zoom in sebuah pertarungan baku pukul, lalu menengok kesamping untuk melihat kegaris depan melihat bagaimana sebuah senapan sedang ditembakkan, lalu mencari tahu kemana peluru itu meluncur dan bersarang. Tidak hanya melihat ke satu fokus, tapi penonton bahkan menjadi bagian dari fokus tersebut.

2) Interaksi sekunder yang dibangun akan lebih intense. Satu set tambahan input device berbentuk sarung tangan, misalnya, akan bisa membuat seseorang menonton bareng film yang sama dengan pacarnya yang berbeda benua. Dan ‘menonton’ disini adalah masuk kedalam film tersebut. Berdua, bergandeng tangan, mengikuti bagaimana aktor dalam film tersebut mengemudi. Berada didalam mobil yang sama pada kecepatan tinggi disebuah film balapan, misalnya.

Dan semuanya ini akan bisa dilakukan darimana saja. Tanpa harus ngantri dan beli tiket ke Amplas yang ngga bisa pake kartu kalo bukan weekend.

Watch your back, bioskop.

—–

Hell yeah. Teknologi katanya membuat manusia semakin individualistis. Saya termasuk yang tidak percaya akan ini. Walaupun seaneh apapun bentuk koneksitas antar manusia, tapi mereka tetap saja berhubungan. Ketika senyuman menjadi sebuah emotikon dan teriakan menjadi sebuah dobel kurung, tetap saja, manusia berinteraksi, dan teknologi takkan berarti tanpa keberadaan manusia. At least sampai puluhan tahun lagi, sebelum era sentinel🙂

Permisi.

 

 

3 thoughts on “Para Pengusik, dan Runtuhnya Bioskop Di Masa Depan

  1. “Walaupun seaneh apapun bentuk koneksitas antar manusia, tapi mereka tetap saja berhubungan. Ketika senyuman menjadi sebuah emotikon dan teriakan menjadi sebuah dobel kurung, tetap saja, manusia berinteraksi …” tetapi bagaimana pun juga, mendapatkan ciuman berupa emotikon dibandingkan dengan ciuman langsung saat bertemu akan menimbulkan sensasi yang berbeda🙂

    selama kita manusia, maka kita tetap membutuhkan pertemuan, bahkan sentuhan secara fisik. kecuali jika kita sudah menjadi robot …

  2. Mas, intermesso nih. ada komik jepang menarik soal gesekan dunia digital dengan dunia nyata, judulnya ‘resentment’. item di plotnya boleh di sebut klise, tapi plotnya sama sekali tidak, unik menarik.

    kaitannya dengan tulisan ini ya seputar bergesernya trend hiburan seiring perubahan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s