The Chronicles of Jogja – Ruwetnya Jogja Kini

Image

The Chronicles of Jogja – Ruwetnya Jogja kini.

Ya, saya tahu– Chronicles tidak bisa diartikan ruwet. Tapi sungguh; dulu Jogja tidak seruwet ini. Pernah ngitung nggak, berapa dulu perjalananmu dari rumah ke sekolah/kantor, dibanding 2-3 tahun terakhir ini? Saya sih merasakan banget bedanya😦

Berturut-turut semalam dan sore ini ngobrol dengan teman yang cukup lama tinggal di Eropa; yang satu udah balik ke Indonesia 6 bulan yang lalu, satunya baru balik dalam hitungan hari. Pendapat mereka lebih ekstrem lagi dalam ngerasa ruwetnya Jogja sekarang, karena secara ngga langsung pasti membandingkan dengan kota lain (yang ada di Eropa).

Pernah nggak, lihat anak kecil dibawa naik motor, duduk didepan dipegangin satu tangan kiri, dan satu tangan kanan bapak/ibu/om-nya itu megang stang motor?

Pernah nggak, lihat anak kecil berdiri di atas jok motor, diapit oleh bapak ibunya, tanpa helm dan sambil ketawa-ketawa?

Pernah nggak, lihat mobil/motor yang berada dijalur kiri berhenti di lampu merah, padahal harusnya kiri boleh langsung?

Pernah nggak, lihat ratusan baliho berukuran raksasa di jalan-jalan protokol? Bahkan disetiap perempatan ada puluhan disetiap sudut?
IYA, PULUHAN BALIHO DISETIAP PEREMPATAN.

Pernah nggak, lihat orang mau pindah tempat cuman berjarak 100-200 meter harus naik motor/mobil?
IYA, GESER DIKIT HARUS NAIK MOTOR.

Pernah nggak, lihat trotoar? Oke. Sekarang, pernah nggak, lihat trotoar yang ngga bisa dipakai jalan?
IYA, TROTOAR YANG NGGAK BISA DIPAKE BUAT JALAN KAKI.

Dan tau nggak? Kalau saya adalah bagian dari keruwetan itu?
IYA, SAYA.

Saya kemana-mana naik kendaraan. Naik mobil yang berbahan bakar bensin. Saya juga bikin jalan tambah padat, tambah macet. Perusahaan saya juga pernah pasang baliho gede di perempatan, sekarang juga pasang plang gede di pinggir jalan.

Saya adalah penyumbang polusi. Polusi udara, polusi visual. Kadang juga polusi suara ketika satu waktu berasa harus menyumpahi pengguna jalan lain yang kurang ajar.

Saya nggak bangga. Sama sekali.

Beberapa kali saya coba membiasakan diri buat jalan kaki jika mau pindah tempat dalam radius dibawah 1km. Tapi mau jalan disebelah mana? Di trotoar ketemu warung nangkring atau mobil parkir. Mau nyalahin warungnya? Mereka udah belasan tahun disitu, dan siapa saya?

Saya ngga pegang, dan lagi males gugling juga tentang data pertambahan jumlah kendaraan di Jogja ini. Tapi yang jelas; buanyak. UMK naik terus, dan bagi masyarakat, kendaraan bermotor semakin terjangkau. Ngga punya cash? tinggal bawa DP 500rb udah bisa kredit motor. Punya duit lebih? Bawa sekian belas juta buat DP, dapet deh mobil LCGC.

Tapi tau nggak? Kalo dibeberapa negara lain yang maju, punya kendaraan pribadi itu dibikin mahal banget? Selain pajak-pajak yang dikenakan pada saat pembelian, bikin SIM juga dibikin mahal dan susah test-nya –ngga bisa nembak. Pajak pertahunnya pun bisa semahal kayak beli mobil baru. Belum juga ERP (Electronic Road Pricing). Tiap masuk jalan protokol, saldo langsung dipotong biaya pakai jalan.

Disisi lain, transportasi publik diperbaiki dan dibangun terus-menerus. Mau kemana-mana ada kereta bawah tanah, atau bis/trem yang bayarnya bisa pake tiket terusan perbulan. Orang jadi malas naik kendaraan pribadi, dan lebih milih naik kereta/bis. Lebih nyaman.

Trotoar juga lebar-lebar dan steril dari mobil parkir. Ngapain juga naik motor kalau cuman sejarak dari Tugu ke Malioboro?

Nggak mudah memang, membuat kota yang menyenangkan. Tantangan utamanya adalah kultur yang sudah mengakar. Bahwa Jogja yang begini, yang sekarang ini adalah “baik-baik saja”. Peer pressure yang menganggap bahwa “jalan kaki ngga keren” dan “punya duit harus naik kendaraan pribadi” juga lumayan fatal.

Ngga mudah memang, membangun jalur subway yang menghubungkan semua titik di kota Jogja. Negara lain butuh belasan, bahkan puluhan tahun untuk melakukannya. Tapi kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Mau nunggu sampai sepekat Beijing dan seruwet Jakarta?

Bahkan Jakarta, Bandung dan Surabaya sudah mulai (akan) membangun infrastruktur transportasi. Thanks to Jokowi-Ahok, Ridwan Kamil, dan Risma. Jogja tampaknya ayem saja. Nambah jalan layang di perempatan Magelang, iya. Yang lain? Mandeg.

Ah, getir sekali saya. Hanya bisa menulis saja, tapi belum melakukan apa-apa.

Permisi.

One thought on “The Chronicles of Jogja – Ruwetnya Jogja Kini

  1. karena bagaimanapun, apapun keadaannya Jogja tetap istimewa, Jogja berhati nyaman, semacet apapun, jogja tetep berhati nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s