Personal Electric Vehicle. Era Baru Transportasi (?)

(Personal) Electric Vehicle.

One Wheel Electric Skateboard

One Wheel Electric Skateboard

Sejak beberapa bulan lalu, entah kenapa aku sedikit terobsesi dengan subject ini. Setiap ada article atau produk yang berkaitan dengan PEV, aku pasti menyempatkan untuk membacanya. Dan kali ini, aku berpikir; kenapa tidak untuk mulai menuliskannya?

Aku percaya bahwa dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi, dan tingkat kepedulian kita atas polusi juga semakin besar, maka dalam beberapa (belas) tahun lagi hampir semua kendaraan akan bertransformasi dari bermesin combustion (berbahan bakar bensin/solar/aftur dkk) menjadi listrik.

Munculnya EV sebenarnya sudah cukup lama, sejak pertengahan abad 19. Bahkan, faktanya; pada tahun 1912 di US, jumlah mobil listrik LEBIH BANYAK dari mobil berbahan bakar bensin. Jadi, EV sama sekali bukanlah teknologi yang baru.

Thomas Alva Edison dan Mobil Listrik. Image dari Wikipedia.

Thomas Alva Edison dan Mobil Listrik, 1913. Image dari Wikipedia.

Lalu, kenapa beberapa dekade terakhir lebih banyak mobil bensin dijual dan mobil listrik menghilang? Jawabannya antara lain adalah gabungan dari hal-hal ini:

1) Jarak tempuh yang terbatas — kemampuan EV untuk terus menerus bekerja sampai baterainya habis. Teknologi awal batere lithium baru dipasarkan sekitar tahun 1970. Waktu itu mobil listrik menggunakan baterai berbasis Nickel, jadi selain perawatannya ribet, energi dan durasinya juga terbatas. Bayangkan, mobil baru jalan 5-10km sudah harus dicharge lagi, sungguh sangatlah ribet­čśÉ

2) Perusahaan tambang. Majunya teknologi dalam menemukan sumber minyak bumi (yang saat itu sangat berlimpah) sehingga harga BBM jauh lebih murah. Didukung pula bertumbuhnya infrastruktur jalan kota-kota di negara maju yang semakin lebar dan menghubungkan semua provinsi (atau negara bagian), korelasinya berarti kendaraan dituntut untuk lebih cepat dan punya jarak tempuh lebih panjang pula. Kepentingan bisnis oleh perusahaan tambang agar produknya dibutuhkan pasar juga pasti berpengaruh banyak di era ini.

3) Henry Ford. Orang ini adalah yang menciptakan lini produksi mobil secara massal. Hasilnya luar biasa. Mobil combustion BBM harganya bisa ditekan jauh, meninggalkan mobil listrik pada periode 1920-an yang tidak mengalami perkembangan apapun yang berarti. Saat itu harga mobil listrik 2x lipat mobil BBM, dan setengah lebih populasi mobil yang ada bermerk Ford. Combustion killed the EV.

Tapi jaman terus berkembang. Cadangan minyak bumi yang berasal dari fosil — sumber energi yang disediakan oleh bumi ribuan tahun lalu, yang juga menghasilkan polusi terbesar, semakin menipis. Teknologi baterai, walaupun lambat, juga terus berkembang. Dari Galvanic, Nickel, Lead Acid, hingga Lithium.

Gen Y awal (yang lahir sebelum 1990) dipastikan mengalami generasi pertama mobile phone, ketika baterai masih berbahan NiCD (Nickel Cadmium) atau NiMH (Nickel Metal Hydrade) yang proses chargingnya harus menunggu benar-benar kosong dulu. Beberapa hp jaman itu sampai punya feature “discharge battery” yang fungsinya mengosongkan baterai sebelum dicharge, tidak seperti baterai Li-Ion yang ada di semua smartphone sekarang; bisa dicharge kapan saja.

Industri EV, khususnya mobil, mulai menggeliat lagi pada tahun 1990an ketika beberapa perusahaan besar produsen mobil seperti Honda, Toyota, General Motors, Chrysler dan Ford berkomitmen untuk mengembangkan mobil listrik, karena kesadaran–lebih tepatnya desakan–atas tingkat polusi yang tinggi. Di era inilah lahir (kembali) mobil hybrid, salah satu contohnya adalah Toyota Prius.

Tidak banyak yang terjadi saat itu— dinegara maju mobil listrik masih tetap lebih mahal, dan orang lebih suka menggunakan mobil BBM. Penjualan mobil listrik tidak menggembirakan, hingga mulai terjadi krisis energi pada tahun 2000-an. Saat itulah penjualan mobil hybrid di US dan Europe meningkat cukup drastis.

But the real game changer, is… Elon Musk dengan Tesla Motors-nya. Tahun 2008 dia mulai memasarkan Tesla Roadster, mobil sport listrik pertama yang bisa mencapai kecepatan 100km/jam dalam waktu 3.9 detik. Jarak tempuhnya juga super jauh, sampai 390 km sekali charge. Versi Tesla Roadster berikutnya, tahun 2010 bahkan bisa lebih cepat lagi, cuma 3.9 detik untuk mencapai kecepatan 100 km/jam. Edun. Ini adalah pertama kalinya mobil listrik bisa bersaing dalam hal range dan speed dibandingkan mobil combustion.

Tapi hey, apa kabar Indonesia, negara pemberi subsidi BBM 224 triliun rupiah di tahun 2013? Entahlah, aku males nyari data terlalu detil dan banyak komentar :0

Yang jelas, panjang jalan dibandingkan jumlah mobil ngga sebanding. Aku tinggal di Jogja, dimana kemacetan *mungkin* tidak separah Jakarta. Tapi solusi transportasi bukanlah juga mobil listrik, tapi tentunya infrastruktur Mass Rapid Transportation seperti kereta/bus yang bisa menjangkau daerah manapun dengan nyamanlah yang kita butuhkan.

Konsep PEV dalam benakku, adalah alat transportasi jarak pendek (kurang dari 15km) dalam kota, yang bersifat portable dan (tentunya) bersifat personal. Pembuatnya kebanyakan justru bukan perusahaan besar, tapi malah start-up “indie” yang beberapa menggunakan teknologi crowdsourcing dengan kickstarter atau indiegogo untuk mendanai projectnya agar bisa diproduksi dan dipasarkan secara massal.

PEV tidaklah berbentuk mobil, karena jenis alat transportasi ini membutuhkan space yang luas dan malah menambah kemacetan. PEV haruslah bisa dibawa kemanapun. Masuk ke kantor, ditenteng di mall, dan bisa disimpan dibawah meja, didalam bagasi mobil, atau dibalik pintu. PEV harus bisa ditenteng naik kereta, bus atau kendaraan umum lain dengan mudah.

Aku akan mencoba membahas satu persatu jenis PEV secara detil dalam artikel selanjutnya, tapi beberapa yang sangat menarik diantaranya:

Z-Board

Z-Board

Z-Board. Berbentuk skateboard dengan kontrol weight sensing. Max speed: 25 km/jam. Range: 16 km.

SoloWheel

SoloWheel

Solowheel. Berbentuk unicycle (satu roda) self balancing. Max speed: 16 km/jam. Range: 10 km.

onewheel

Onewheel. Berbentuk skateboard dengan satu roda. Max speed: 20 km/jam. Range: 8km.

Momentum atas bermunculnya produk-produk PEV ini, tentunya tidak bisa dipisahkan dari sejarah munculnya PEV generasi awal di awal tahun 2000-an yang diciptakan oleh Dean Kamen untuk perusahaan yang dimiliki (Alm) James W. Heselden, seorang pengusaha yang ironisnya meninggal setelah jatuh ketika naik produknya sendiri; Segway.

Tunggu artikel selanjutnya mengenai PEV ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s