Snowboarding di Muju, Korea Selatan (1)

Licin. Curam. Dingin. Suara angin yang mendesau dalam suhu minus 8 derajat celcius. Mendadak aku tersadar kalau didepan sana track es akan berbelok tajam kekanan, dan aku meluncur terlalu cepat. Dan tidak ada rem dalam snowboard ini. Yang bisa dilakukan adalah berbelok dan menggunakan sisi papan ini untuk mengikis salju, mengurangi kecepatan.

Dan untuk berbelok sama dengan memindahkan berat badan ke kaki depan, lalu membuat menggeser kaki belakang kesamping, sembari menjaga sudut badan selalu condong ke belakang agar tidak terpelanting. Dan refleksku tidak cukup cepat untuk menjaga keseimbangan, mengurangi kecepatan, dan tetap mengarahkan badan ini ke sudut yang benar. Sejenak aku melayang. Beberapa mikro detik, lalu disusul hentakan keras di bahu kanan, sikut kiri, dan punggung secara berurutan. Aku jatuh terhempas, pada kesadaran penuh.

Jatuhku entah ke sekian kalinya pada 2 hari perkenalanku pada olahraga ini. Snowboarding. Beberapa detik aku diam di atas salju dengan napas satu-satu. Lalu bangun lagi. Adrenaline rush yang terjadi ketika meluncur dengan kecepatan tinggi terlalu kuat efeknya dibanding memar dan lebam disekujur tubuh karena membentur salju keras.

Gravitasi adalah pedang bermata dua, dia memberi kecepatan tinggi, tapi juga menarik badan ini dinginnya salju dengan benturan kencang. Tampaknya hanya jaket yang super tebal ini bisa meredam benturan antara badan dan landasan putih ini.

Snowboarding!

Snowboarding!

Aku pertama kalinya mengenal benda bernama salju melalui TV dan film Hollywood. Salah satu film yang mengenalkan saya ke salju, adalah Home Alone — film yang dulu dibintangi Macaulay Culkin, dan belakangan film ini dan sekuel-sekuelnya menjadi film wajib diputar menjelang akhir tahun di stasiun-stasiun TV.

Dan selalu menjadi salah satu keinginan masa kecilku untuk bisa menyentuh salju. Lalu berkembang; aku menjadikan snowboarding masuk dalam daftar “Things to do before you die” yang sebenarnya tak pernah aku tulis, tapi selalu terngiang terutama ketika aku sedang sendiri dan tidak mengerjakan apapun.

Muju terletak 3 jam naik mobil dari Seoul. Adalah sebuah kesempatan yang sangat luar biasa bisa sampai di ski resort ini. Kalau tidak keluarga kami punya kenalan orang Korea yang bisa mengantar dengan mobil ke sini, mungkin saja aku ngga akan pernah bisa merasakan snowboarding.

Sebelumnya aku mengira bahwa snowboard mirip dengan skateboard. Toh, prinsip dasarnya sama. Meluncur dengan papan dibantu gravitasi. Bedanya yang satu pakai empat roda, yang satu meluncur diatas salju yang licin. Jadi, dengan berbekal bisa meluncur dan bermanuver dengan skateboard, aku merasa bahwa snowboarding akan mudah bagiku.

Dan bisa ditebak, pemikiran itu adalah over simplifikasi yang bodoh sekali. Ternyata skateboarding dan snowboarding banyak sekali bedanya, dan bisa skateboard (buatku) malah membuat lebih sulit belajar snowboard. Ditambah keputusan untuk tidak menyewa trainer — well, alasan utamanya sebenarnya ya karena mahal — hasilnya adalah lebam disekujur tubuh, untung saja tidak cedera parah ataupun permanen :))

Hal yang paling mendasar perbedaannya adalah mengenai ankle. Di skateboard, cukup dengan ankle (pada kecepatan tidak terlalu tinggi) kita bisa mengontrol kemana arah board. Jika kamu goofy sepertiku — yang cenderung meletakkan kaki kanan didepan, maka menekan kaki bagian depan (ujung jari) maka skateboard akan bergerak ke kiri. Jika tumit yang ditekan, kekananlah kita.

Di snowboarding, kita menggunakan sepatu yang tebal dan kaku. Mirip strukturnya dengan sepatu rollerblade, yang memang didesain untuk membuat ankle tidak bergerak dan tetap pada posisinya. Ditambah lagi, kaki kita selalu menempel pada snowboard, tidak bisa bergerak bebas seperti pada skateboard.

Hari pertama dan awal hari kedua, masalah ankle ini sungguh mengganggu. Refleks yang terbentuk oleh skateboard membuatku selalu menggerakkan bagian tubuh ini setiap akan berbelok arah. Dan ini sungguh salah, karena board tidak bergerak kemanapun. Hasilnya aku meluncur bebas dengan kecepatan tinggi dan akhirnya terpelanting di ujung track latihan, tersangkut oleh jaring pembatas.

Muju sendiri mempunyai beberapa track yang dibagi menjadi 3 kategori:(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s