#JogjaTanpaBaliho | #JogjaBerhentiNyaman

Sebentuk hashtag sederhana ini ini, #JogjaTanpaBaliho dan #JogjaBerhentiNyaman menyentil saya untuk menulis. Sedemikian kuat rupanya daya ungkitnya hingga bisa menggerakkan jemari ini untuk mengetikkan kata per kata, yang biasanya sungguh malas — bahkan *duh* masih berhutang artikel bersambung tapi tak kunjung selesaišŸ˜¦

Entah siapa yang memulainya, tapi saya sekelebat melihatnya pada cuitan @killthedj yang ditimpali oleh @dindasays, keduanya teman yang sudah sejak lama saya kenal.

Mata saya mulai lelah ketika menyusuri jalanan Jogja. Bukan karena debu atau polusi udara, walaupun belakangan ini mungkin juga bertambah intensitasnya. Bukan juga karena cahaya merah yang terpendar dari lampu lalu lintas yang seakan semakin lama terpampang karena bertambahnya kemacetan. Ini karena terlalu banyak sampah visual. Ya, lebih tepatnya baliho, billboard, ataupun papan nama yang berserakan, menggantung pada tiang-tiang vertikal disetiap sudut jalan yang selalu saya lewati tiap hari.

Segala logo, gambar, maupun copy text seakan berteriak: “lihat aku, baca aku, ingat aku, BELI AKU!”

Ketika baliho-baliho itu masih hanya satu-dua pada tiap ruas jalan, teriakan itu akan terdengar dengan jelas. Tapi kini, ketika semua sudut dan ruas terisi baliho, dan semua berteriak, maka yang terdengar hanyalah seperti suara cakap-cakap manusia yang bersahutan dalam stasiun atau bandara. Terdengar, tapi tak bisa lagi tercerna oleh manusia biasa. Lalu apa gunanya?

Oh ya, ini adalah artikel yang hipokrit. Sederhana saja; saya menulis sepenuhnya mengenai #JogjaTanpaBaliho, tapi bulan lalu — selama 3 bulan berturut-turut perusahaan saya menyewa space billboard di pojokan ruas salah satu perempatan paling sibuk di kota Jogja. Dan bisa saja, tahun depan keputusan itu akan diambil lagi. Mungkin.

Tapi saya akan bahagia, jika timbul aturan baru yang melarang adanya baliho di Jogja. Benar-benar #JogjaTanpaBaliho. Butuh proses mungkin, seperti aturan baru di DKI Jakarta; izin untuk billboard baru tidak akan dikeluarkan lagi, dan tidak ada lagi perpanjangan izin atas baliho yang sudah ada.

Jogja yang saya impikan adalah dimana semua neon sign serta papan nama juga harus dibuat sejajar dan menempel dengan bangunan, tanpa ada yang melintang.

Trotoar yang lebar sehingga semua orang bisa bergerak nyaman di sisi jalan tanpa harus diklakson dan terhimpit antara motor atau mobil dan warung pinggir jalan. Jogja yang (kembali) berhati Nyaman.

Manusia-manusia yang dengan senang hati berjalan. Ya, berjalan kaki, tanpa harus memutar kunci starter kendaraan bermotor dan membakar BBM ketika hendak berpindah hanya dalam radius beberapa ratus meter.

Dan lebih jauh lagi; MRT. Kereta listrik yang menghubungkan antara semua titik keramaian di Jogja, dengan stasiun tiap 3 kilometer. Bukankah ‘sister city’ kita adalah Kyoto yang telah lama punya infrastruktur public transport yang bagus?

Kota yang maju adalah bukan kota dimana semua orang berkendaraan pribadi, tapi ketika orang berduit mau naik transportasi publik.

Kota yang keren adalah bukan ketika semua pelaku bisnis memasang sign melintang di ruas jalan, dan semakin banyak baliho seiring semakin bertambahnya modal (dan masih ketambahan muka pejabat/caleg narsis) — tapi ketika semua pelaku bisnis bisa bersaing dengan kualitas produk yang baik dan branding yang cerdas tanpa sampah visual.

Mustahil? Tidak.
Sulit? Iya.

Jakarta sudah berbenah di era Jokowi-Ahok ini, Surabaya sudah pula dibawah pimpinan Tri Rismaharini.

Jogja yang katanya punya stock intelektual bejibun, kapan mulai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s