What’s the Michigo story? (2)

(tulisan sebelumnya ada di link ini)

Beware. Paragaraf-paragraf berikutnya akan berisi ulasan makanan yang kemudian menjadi menu di Michigo, jadi sebaiknya jangan dibaca dengan perut kosong.

Pajeon (파전)

Pertama kali lidah saya bersentuhan dengan “martabak korea” ini, diajak teman bernama Saku. Kami berempat, bersama juga Song dan @anggittut. Nama restorannya adalah : Namul Mugnun Gom – Gom.  Bentuknya sebenarnya lebih mirip bakwan sih sebenernya, walaupun translasi literalnya sebenarnya adalah “pancake”.

Namul Mugnun Gom-Gom, Hong Dae.

Kalau disebut sebagai gorengan, sebenarnya ya sah-sah saja; karena memang ada unsur minyak, walaupun sangat minimal. Pajeon ini bahan baku utamanya adalah tepung terigu, tepung beras, telur dan spring onion (loncang). Nah kemudian additional ingredients dan variasinya kemudian bisa sangat bermacam-macam, tergantung dari kreatifitas pembuatnya. Yang umum sih haemul (seafood), dak (ayam) dan sugogi (daging sapi), kadang juga ditambahkan keju mozarella didalam adonannya.

Oh ya btw, kalau local wisdom Jawa, atau bahkan mungkin kebanyakan orang Indonesia, cara niteni (mengidentifikasi) warung makanan lokal yang enak atau tidak, itu dari banyaknya pengunjung. Sedangkan kalau menurut teman-teman saya yang asli korea, di sana rada beda — selain dari ramai/nggaknya pengunjung, bisa juga dilihat dari adanya ibu-ibu setengah baya yang ada di warung tersebut. Kalau udah tinggal anak-anak muda, resepnya dipercaya sudah slewah (bergeser dari original), gitu sih katanya ;p

Namul Mugnun Gom – Gom ini, sungguh memenuhi syarat tersebut. Memang ngga terlalu rame, tapi dipojokan ada dapur yang cukup terbuka, dan ada ibu-ibu koreyak setengah baya yang ndodok sambil masak. Ealah, langsung terbayang silih berganti: Mbok Galak, Yu Jum, dan Yu Par.

Naeng Myeon (냉면)

Myeon artinya Mie. Naeng adalah dingin. Asal sebenarnya dari Pyongyang, Korea Utara, tapi menjadi sangat populer di Korea Selatan, terutama saat musim panas. Bahan dasar Neng Myeon terbuat dari Buckwheat, sebangsa biji-bijian yang masih satu keluarga dengan gandum.

Varian Mie Dingin pertama kali yang saya cicipi adalah Kongguksu — mie dingin berkuah susu kedelai, masih di Namul Mugnun Gom-Gom ini. Maklum, makanan yang dipesan waktu itu banyak banget, sampai kemlekeren pokoknya. Dan memang, makanan korea selalu disajikan dengan porsi banyak, dan variannya banyak banget pula.

Kemudian setelah beberapa jenis Naeng Myeon di warung disana yang saya jajal dalam trip ini (mungkin ada 7-8x), yang benar-benar paling enak menurut saya, adalah di warung bernama Yokssam Naengmyeon. Memang warung ini spesial menjual Mie Dingin, dan nemunya ngga sengaja, waktu jalan sendirian di daerah Myeong Dong — semacam shopping district yang paling hip di daerah Seoul.

Mul Naeng Myeon di Yokssam Naeng Myeon

Favorit saya adalah Mul Naeng Myeon, yang mie dingin berkuah dengan separoh telor ayam rebus, irisan timun, buah pear, dan sedikit biji wijen sprinkled diatasnya. Disampingnya, ada daging panggang disajikan diatas telenan kayu. Dari semua warung di korea yang saya coba dengan waktu terbatas, hanya Yeokssam ini yang bisa membuat saya datang sampai 2 kali.

Toppokie (떡볶이)

Perjumpaan pertama (dan langsung jatuh cinta) saya pada Toppokie (atau nama yang lebih ribetnya: Tteokbokki) itu di Hong Dae, sebuah distrik yang sebenarnya adalah singkatan dari Hongik Daehakgyo (Hongik University). Area ini adalah pusat urban art & pop culture-nya Korsel.

Toppokie sendiri terjemahan bebasnya adalah kue beras, dan berbahan dasar tepung beras (ya iyalah). Sejarahnya dulu adalah makanan camilan keluarga kerajaaan Korea, tapi kemudian berkembang dan terkenal sebagai satu varian street food Korea yang banyak ditemui di pojok-pojok Seoul. Sausnya sendiri berbahan dasar Gochujang — yang merupakan saus dasar hampir semua masakan korea.

Toppokie

Warung di Hong Dae itu bernama Gangster Toppokie; atau kadang disebut juga sebagai Yakuza Toppokie. Yang jualan sih emang sangar dan bertato, tapi sepertinya penamaannya lebih ke alasan komersial biar lebih “cool” aja😉

Gangster Toppokie – courtesy @ Seoul Eats

Cara masak toppokie di warung ini mengingatkan saya jadi volunteer masak di dapur umumnya Momento Cafe jaman pas gempa bantul dulu. Satu wajan gede bianget, trus yang masak kringeten. Sip, ngga usah nambah garem kali ya :)) Penyajiannya dengan fishcake (olahan ikan), dan kita bisa pilih sendiri menu yang lain dengan cara makan dicocol ke saus toppokie. Di warung ini disediakan macem-macem jeroan; babat, tulang muda, juga potongan-potongan ikan.

BiBimBap (비빔밥)

Arti literalnya adalah nasi campur. Dan semua orang sebenarnya bisa membuat bibimbap. Ada cerita mengenai teman saya yang asli korea, makan di jalan Flamboyan, Jogja. Model warung ini adalah buffet, yang mana pelanggan mengambil sendiri nasi dan lauknya. Yang dia lakukan adalah mengambil nasi, pecel, gorengan, dan ayam goreng. Kemudian diublek-ublek jadi satu. Pun itu sah disebut sebagai Bibimbap, walaupun rasanya (kayaknya sih) ngga karuan.

Bibimbap – bawah, Kongguksu – atas. Keduanya pake mangkuk stainless steel

Penggambaran Bibimbap ini, kalau di drama korea (ini katanya sih) itu adalah makanan yang selalu dimakan ketika tokoh cewek habis putus cinta, atau habis bertengkar sama pacarnya. Scene-nya adalah: malem-malem buka kulkas, ambil semua sayuran dan sisa lauk yang ada, dan dicampur sama nasi, trus ditambah gochujang. Proses ngublek-ngublek dan makan ini dilakukan sambil nangis. Biasanya adegan ditutup dengan ada teman/kakak/ibu yang datang dan ngepukpuk (iki terjemahane opo yo?) sampai si cewek ini tenang.

Varian yang lebih bisa saya terima adalah Dolsot Bibimbap. Dolsot berarti mangkuk batu — artinya varian Bibimbap ini disajikan panas-panas sehingga nasi yang posisinya dibawah langsung bersinggungan dengan suhu tinggi dan menimbulkan efek gosong dan agak sangit. Ketika original Bibimbap biasanya memakai sayuran mentah, maka pada Dolsot BiBimbap, sayuran dan telur mentah dimasak bersama nasi dan disajikan setengah matang. Proses pematangannya dilanjutkan di meja, bersamaan ketika diublek (iki yo terjemahane opo sih?) bersama nasi.

(Bersambung. Lanjut lagi di seri berikutnya ya.. nantikanlah.. :p )

3 thoughts on “What’s the Michigo story? (2)

  1. selain dari ramai/nggaknya pengunjung, bisa juga dilihat dari adanya ibu-ibu setengah baya yang ada di warung tersebut. Kalau udah tinggal anak-anak muda, resepnya dipercaya sudah slewah (bergeser dari original) ——> aku ibu2 muda, mahmud abbas (meminjam istilahmu) … nek nongkrong nang warungmu sing pangananne nampak enak2 ituh ngko njuk dikiro ibu2 setengah baya? piye nooooo……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s