What’s the Michigo story? (1)

Sudah lama mau nulis tentang warung saya yang terbaru ini. Tapi pasti njuk mentok karena buanyak banget yang pingin diceritakan. Saking banyaknya, ujung-ujungnya kena sindrom mind grabble; malah dadi embuh.

Siang yang (agak) selo ini, tak coba memulai menuliskan, dalam tulisan berseri. Sepertinya format ini lumayan solutif jika pokok bahasannya cukup luas, atau terlalu banyak yang mau diceritakan.

Yak. Mulai.

Waktu itu awal Juli tahun kemarin (2012). Saya beruntung dapat undangan oleh sebuah event berjudul Asia Social Entrepreneur Summit (ASES) yang diadakan di Jeonju, Korea Selatan. Datanglah saya bersama @anggittut sebagai kontingen dari Jogja, Indonesia (jreng jrengg..)

asiases

Konsep acaranya menarik, tapi ngga akan saya ceritakan disini. Soalnya nanti ngga sampai-sampai ke cerita Michigo dong:/ Tapi highlightnya adalah; Pemerintah Korsel ini concern dan mendukung sekali pada misi penetrasi pengenalan budaya mereka ke negara lain. Buktinya, tiket pp saya direimburse mereka je🙂

ASES sebenarnya berlangsung hanya selama 3 hari. Tapi ya karena udah jauh-jauh datang dari Indonesia, saya jelas extend tinggal sampe 2 minggu, mengandalkan Airbnb.com biar dapet tempat tinggal yang murah dan selalu dapet surprising moment, ngga monoton kayak kalo nginep di hotel biasa. Oh ya, btw saya ngga pernah travelling pake jasa paket biro wisata. More about this kayaknya perlu saya tulis di artikel tersendiri deh. Later ya.

Waktu itu saya nginep Seocho, downtown Seoul. Cuman beda 2 stasiun udah sampai Gangnam. Kalo jalan kaki ya kira-kira cuman 15-20 menit gitu, udah sampe. Tapi Gangnam Style-nya PSY itu released pas sehari setelah saya balik ke Indonesia (15 Juli 2012, menurut wikipedia). Jadi ya pas saya kesana daerah itu belum sepopuler sekarang.

Satu setengah minggu di Seoul, ada beberapa hari yang janjian makan ketemu teman sama-sama dari ASES, sempet hiking naik Inwangsan Mountain (gunung di utara Seoul) sama Joanne + Julie dari Denmark. Tapi jadwal saya sebenarnya didominasi dengan keluar masuk warung dan restoran. Malem buka Tripadvisor/CNNGo/Lonely Planet buat menyusun rute, trus paginya berangkat pake subway sendirian.

inwangsan-julie-jo

Kebanyakan warung yang saya tuju itu jualannya adalah street food, bukan fine dining. Dan bisa ditebak lah, seperti conventional wisdom; the best food adalah rekomendasi dari penduduk lokal. Untunglah saya sempet lumayan kenalan sama beberapa orang sono, dan dikenalkan sama makanan-makanan yang populer di Korea.

(bersambung)

One thought on “What’s the Michigo story? (1)

  1. What’s the Michigo story? (2) – TalkinAndy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s