Kepancal Digital (2)

Suatu sore beberapa hari yang lalu, ketika ngobrol-ngobrol cantik (haiyah) bersama @DhaniekRatna dan @serafinanovi di warungnya. Bahasannya sih ringan-ringan saja, seputar aktivitas teman-teman kami. Cuman, yang menarik disini, kok ya ternyata ngga jauh-jauh juga dari kegiatan “maksimalisasi” gejet.

Kok bisa?

Misal nih ngomongin si Paijo (bukan nama sesungguhnya), itu lagi dimana ya? Kok lama ngga keliatan? Lagi ngapain? — Otomatis yang saya lakukan adalah ngecek social media accountnya.

Information at your fingertips.

Berurutan: Path. Foursquare. Twitter. Kalo ga ada ya fesbuk. Dulu malah lebih parah lagi, ketika masih ada Google Latitude. Ketauan posisinya bisa realtime. Kalo ngga ketemu juga, masih ada jalan lain: cek akun fesbuk pacarnya. Naah konangan :))

Kalo mungkin ada yang bilang kalo handphone/tablet itu adalah “life companion” ..emmmm.. bener juga sih. Tapi kok cocok juga jadi “kepo companion” hehehe.

We’re now living in transparent glass houses. Really.

Kalau dipikir-pikir, sekejap saja orang mau profiling kita, gampang banget. Dengan beberapa kali scroll di timeline twitter kita, dan bekal kemampuan analisa psikologi pas-pasan, cukuplah untuk tahu sifat, kebiasaan, dan sudut pandang seseorang. Kerja dimana? Siapa saja teman-temannya? That’s easy as 1 2 3.

Dan harus saya akui, saya selalu melakukan itu. Setiap akan bertemu tatap muka dengan seseorang yang baru, ataupun teman yang lama ngga ketemu. Doing my homework, begitu kata saya terhadap diri sendiri.

Seringnya sih cukup membantu dalam obrolan. Paling ngga kita ngga akan salah komentar atau waton membahas topik yang sensitif menurut lawan bicara kita ini. Kalo udah tau duluan kalau teman ngobrol kita ini ga setuju miss world misalnya — dari retweet-an dia kemarin; ya jadinya ngga mungkin kan mbahas topik bikini line atau brazilian wax😉

But is it bless or curse? I don’t really care know. Guess we’re all kepancal digital.

*kepancal : A kick in your ass. Or face. Or anywhere on your body parts that make some kinda shocking effect.

2 thoughts on “Kepancal Digital (2)

  1. iya mas, orang akan tau dimana diri kita kalau sudah punya akun di socmed. kalau ada orang omong “aku gak punya privasi nih!”, padahal omong’e neng SocMed ya percuma. Wong wis sign up apapun itu, yen wis mlebu internet ndak bisa omong privasi.

  2. Ya tapi kadang2 soc med sudah terlalu “vulgar” terutama yg initialnya fb.. makanya jadi males update status dll.. ga ada privacy. Jadi wagu khan ya klo mw ngobrol tp udah tau semua kabar tmn dr socmed.. enaknya ngobrol tanpa tau kabar terbaru jadi excited. Keponya maksimal hahaha… walaupun kdg salah ngomong ya tinggal minta maaf. lebih manusiawi.😀 #menurutsayalohya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s