What’s the Michigo story? (2)

(tulisan sebelumnya ada di link ini)

Beware. Paragaraf-paragraf berikutnya akan berisi ulasan makanan yang kemudian menjadi menu di Michigo, jadi sebaiknya jangan dibaca dengan perut kosong.

Pajeon (파전)

Pertama kali lidah saya bersentuhan dengan “martabak korea” ini, diajak teman bernama Saku. Kami berempat, bersama juga Song dan @anggittut. Nama restorannya adalah : Namul Mugnun Gom – Gom.  Bentuknya sebenarnya lebih mirip bakwan sih sebenernya, walaupun translasi literalnya sebenarnya adalah “pancake”.

Namul Mugnun Gom-Gom, Hong Dae.

Kalau disebut sebagai gorengan, sebenarnya ya sah-sah saja; karena memang ada unsur minyak, walaupun sangat minimal. Pajeon ini bahan baku utamanya adalah tepung terigu, tepung beras, telur dan spring onion (loncang). Nah kemudian additional ingredients dan variasinya kemudian bisa sangat bermacam-macam, tergantung dari kreatifitas pembuatnya. Yang umum sih haemul (seafood), dak (ayam) dan sugogi (daging sapi), kadang juga ditambahkan keju mozarella didalam adonannya.

Continue reading

Advertisements

What’s the Michigo story? (1)

Sudah lama mau nulis tentang warung saya yang terbaru ini. Tapi pasti njuk mentok karena buanyak banget yang pingin diceritakan. Saking banyaknya, ujung-ujungnya kena sindrom mind grabble; malah dadi embuh.

Siang yang (agak) selo ini, tak coba memulai menuliskan, dalam tulisan berseri. Sepertinya format ini lumayan solutif jika pokok bahasannya cukup luas, atau terlalu banyak yang mau diceritakan.

Yak. Mulai.

Waktu itu awal Juli tahun kemarin (2012). Saya beruntung dapat undangan oleh sebuah event berjudul Asia Social Entrepreneur Summit (ASES) yang diadakan di Jeonju, Korea Selatan. Datanglah saya bersama @anggittut sebagai kontingen dari Jogja, Indonesia (jreng jrengg..)

asiases

Konsep acaranya menarik, tapi ngga akan saya ceritakan disini. Soalnya nanti ngga sampai-sampai ke cerita Michigo dong :/ Tapi highlightnya adalah; Pemerintah Korsel ini concern dan mendukung sekali pada misi penetrasi pengenalan budaya mereka ke negara lain. Buktinya, tiket pp saya direimburse mereka je 🙂

Continue reading

Kepancal Digital (2)

Suatu sore beberapa hari yang lalu, ketika ngobrol-ngobrol cantik (haiyah) bersama @DhaniekRatna dan @serafinanovi di warungnya. Bahasannya sih ringan-ringan saja, seputar aktivitas teman-teman kami. Cuman, yang menarik disini, kok ya ternyata ngga jauh-jauh juga dari kegiatan “maksimalisasi” gejet.

Kok bisa?

Misal nih ngomongin si Paijo (bukan nama sesungguhnya), itu lagi dimana ya? Kok lama ngga keliatan? Lagi ngapain? — Otomatis yang saya lakukan adalah ngecek social media accountnya.

Information at your fingertips.

Berurutan: Path. Foursquare. Twitter. Kalo ga ada ya fesbuk. Dulu malah lebih parah lagi, ketika masih ada Google Latitude. Ketauan posisinya bisa realtime. Kalo ngga ketemu juga, masih ada jalan lain: cek akun fesbuk pacarnya. Naah konangan :))

Kalo mungkin ada yang bilang kalo handphone/tablet itu adalah “life companion” ..emmmm.. bener juga sih. Tapi kok cocok juga jadi “kepo companion” hehehe.

We’re now living in transparent glass houses. Really.

Kalau dipikir-pikir, sekejap saja orang mau profiling kita, gampang banget. Dengan beberapa kali scroll di timeline twitter kita, dan bekal kemampuan analisa psikologi pas-pasan, cukuplah untuk tahu sifat, kebiasaan, dan sudut pandang seseorang. Kerja dimana? Siapa saja teman-temannya? That’s easy as 1 2 3.

Dan harus saya akui, saya selalu melakukan itu. Setiap akan bertemu tatap muka dengan seseorang yang baru, ataupun teman yang lama ngga ketemu. Doing my homework, begitu kata saya terhadap diri sendiri.

Seringnya sih cukup membantu dalam obrolan. Paling ngga kita ngga akan salah komentar atau waton membahas topik yang sensitif menurut lawan bicara kita ini. Kalo udah tau duluan kalau teman ngobrol kita ini ga setuju miss world misalnya — dari retweet-an dia kemarin; ya jadinya ngga mungkin kan mbahas topik bikini line atau brazilian wax 😉

But is it bless or curse? I don’t really care know. Guess we’re all kepancal digital.

*kepancal : A kick in your ass. Or face. Or anywhere on your body parts that make some kinda shocking effect.