Nasi dan Remukan

Pernahkah kamu merasa hasrat untuk menulis akan sesuatu begitu kuat? Aku sedang merasakannya malam ini. Ini bukan mengenai ide besar atas sebuah bisnis, atau tentang teknologi terbaru; hal yang biasanya kupantau selalu. Ini adalah mengenai makanan yang mengambil wujud sederhana; nasi kucing dan gorengan tempe.

Bukan, ini bukan mengenai keistimewaan sambal atau cara unik penyajian. Tidak ada yang istimewa dari wujud nasi kucing ini. Tidak dibakar, tidak dipanggang, ataupun diletakkan di piring eksotik. Hanya daun dan koran bekas.

Tempe gorengnya memang enak. Selalu hangat, karena digoreng ditempat. Tapi ada yang lebih lezat, yaitu remahan tepung yang terlepas dari tubuh tempe. Remukan, itu istilah yang sering dipakai. Yang menetes duluan sesaat sebelum tempe yang diiris tipis tenggelam didalam minyak panas, setelah terbalut rata dengan adonan tepung dalam baskom seng yang berwarna hijau. Minyak panas terciprat sesekali, karena ibu penjual tidak punya waktu lama untuk pelan-pelan meletakkan tempe kedalam wajan. Banyak yang antri, dan banyak yang harus dilayani.

Tahun itu, 2001. Dua belas tahun lalu. Nasi kucing dengan sambel teri ini harganya hanya 500 rupiah, dan gorengan tempe hanyalah 250 rupiah. Porsinya cukup besar, hampir 2x nasi kucing yang ada diangkringan sekarang ini. Ah, ya. Kamu pasti bisa menebak apa istimewanya. Betul, ini mengenai kenangan masa lalu.

Kotabaru, Jogja. Tepatnya di perempatan pojokan jalan Krasak Timur dan Abubakar Ali. Dekat Stadion Kridosono. Dekat kantorku dulu, sebuah ruangan kecil “nunut” di kompleks sebuah training center. Tempat pertama kali terjun ke dunia bisnis, membuat perusahaan sendiri bersama teman-temanku. Start-up company, begitu istilah kerennya di masa-masa kini.

Di warung kecil itulah dulu hampir setiap hari nasi kucing dan gorengan menjadi menu makan siang favoritku. Alasannya sederhana saja, karena tidak ada uang untuk makan dengan berlauk daging atau telur. Ah, dan kadang-kadang gorengan pun masih terlalu mewah. Ketika hanya tersisa sedikit bensin di motor, dan hanya tersisa beberapa rupiah di kantong, aku masih bisa makan nasi, dengan remukan yang banyak. Minumnya pun cukup air putih. Hanya sebungkus nasi yang perlu kubayar; 500 rupiah saja.

Dan sungguh, waktu itu nasi kucing dan remukan adalah makanan terlezat didunia. Sesekali kugigit cabe rawit hijau sebagai pelengkap, cukup untuk menggantikan coffeemix sachet, kopi termewah di jaman itu, yang juga kadang tidak terbeli. Toh fungsinya sama saja, membuat wajah kuyu dan mata ngantuk menjadi segar kembali.

“Matur nuwun, bu..”
Dan aku sungguh-sungguh berterimakasih. Ibu penjual gorengan ini adalah salah satu penyelamat hidupku.

Bertahun-tahun kemudian, selalu ada masa ketika aku merasa harus kembali kesitu lagi, untuk sekedar menggigit gorengan dan duduk di bangku panjang itu. Kadang aku mengajak teman; sambil selalu menceritakan kenapa warung itu sedemikian spesial buatku. Tapi lebih sering kudatang sendiri, untuk menikmati remukan dan mengunyah kenangan.

Tak tentu waktunya, tapi tiap beberapa bulan sekali aku pasti datang ke warung itu, ketika ingatan atas momen itu datang menyerang.

Ibu penjual selalu heran ketika kadang kuselipkan uang beberapa kali lipat dari yang seharusnya kubayar. Ah bu, kenangan ini mahal sekali, tidak terbayar harganya. Dan dulu aku pernah ambil gorengan dan tidak kubayar, bu. Lupa, kalau uangku sebenarnya kurang.

Hingga pada sebuah hari di 2 atau 3 tahun lalu, ketika aku datang ke pojokan jalan itu, dan tidak ada lagi warung gorengan. Lalu aku datang lagi beberapa hari kemudian, berharap bahwa ibu penjual hanya libur sebentar, tapi warung itu entah kemana. Tidak ada lagi. Bahkan gerobak yang biasanya ada dipojokan dantidak pernah pergi itu pun sudah lenyap, menyisakan jejak roda dan kaki-kaki meja.

Lalu aku menjadi cengeng. Ada air mata menitik disudut mataku. Aku kangen remukan.

Jogja, Mei 2013.

2 thoughts on “Nasi dan Remukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s