Aside: Mlayu sak plinthengan (2)

Ray Kurzweil. Itu alasan kedua aku berlari. Seperti banyak orang yang tetiba menjadi ingin menjadi entrepreneur setelah membaca Rich Dad Pood Dad-nya Kiyosaki, aku ingin menjadi sangat sehat dalam menyambut Singularity. Titik baliknya adalah setelah saya membaca artikel di Time Magazine ini >> 2045: The Year Man Becomes Immortal

Call me insane, utopist or anything else. But I believe in immortality. I believe that human kind, in the near future–yes, in OUR lifespan–will able to live forever. As near as 2045. That means 33 years from now. And we will probably be the first generation of immortals. Don’t believe what I believe? Well, that kinda okay. Kita tetep temenan kok😀

Tentu aku bisa salah. But they said that if we aim to the moon, the worst thing if we miss is we hit the star😉

Secara fisik, ada 2 fase transformasi yang telah ku alami. Errr .. maksudku selain lahir, sunat dan kehilangan keperjakaan lho ya *_*

Yang pertama adalah tahun 2006, ketika aku berhenti merokok. Pemicunya adalah hasil rontgen dari dokter setelah medical check up.

“Ini apa dok?” Sambil nunjuk ke hasil rontgen.
“Ini tuh pembuluh darah yang membesar. Anda merokok ya?”
“Iya”
“Ya gitu. Kalau paru-paru normal hasilnya ngga begini.”
“Duh, trus kalo saya berhenti merokok, trus bisa normal lagi?”
“Ya enggak juga.”
“…..”

Semenjak itu, pet. Sama sekali aku ngga menyentuh rokok lagi. Sebatang pun. Sampai sekarang ini, yang berarti sudah lebih dari 6 tahun.

Percayalah padaku. Setelah berhasil menghilangkan kebiasaan merokok, aku berasa bisa berpikir lebih jernih, lebih cepat, dan lebih tepat (koyo tagline kampanye bupati yo).

Bukan, bukan. Ini bukan artikel motivasi untuk berhenti merokok. Masih banyak teman-temanku yang merokok dan aku ngga keberatan atas itu. Hanya saja, aku akan sangat berterimakasih jika ada teknologi yang memungkinkan asap rokok itu ditelan saja, pun ketika harus dikeluarkan bisa dalam wujud entut pada ruangan privat, jadi ngga perlu terhirup oleh orang lain yang tidak merokok.

Transformasi kedua adalah ketika aku mulai berolahraga rutin. Berenang. Waktu itu adalah akhir 2010, saat aku bersama Jack @dianjackariya berencana “menghilang” dari peradaban beberapa hari dengan menginap di pulau Sempu – biar kayak di filem The Beach-nya Leonardo diCaprio gitudeh.

Dua bulan sebelum hari H, aku sadar kalo kemampuan berenang-ku waktu itu sangat minimalis. Hanya kuat kira-kira 10 meter nonstop. Dan itu ngga sampe sak plinthengan😦 Padahal bayangan kami, cara bertahan hidup adalah dengan menangkap ikan dengan alat-alat yang kita buat sendiri. Nah gimana mau bertahan hidup coba, kalau renang aja ngga lancar?

Mulailah aku berenang (hampir) tiap hari. Dari yang tadinya hanya kuat 10m, lama-lama aku bisa muter kolam renang tanpa berhenti.

Malam sebelum hari H, Jack mengabarkan kalau dia tidak jadi berangkat, dan otomatis rencana ke Sempu gagal. Lha iya masak sendirian, aku ngga berani je.. Penyebabnya kenapa Jack ngga jadi berangkat masih misteri hingga sekarang😦

Tapi tidak mengapa, kebiasaan renangku itu (pastinya) juga membuatku merasa metabolisme tubuh jadi berbeda. Lagi-lagi, aku menjadi bisa berpikir lebih jernih, lebih cepat dan lebih tepat (another tagline, yeah). Sekarang aku bisa muter kolam renang UNY yang bagian dalem itu 30x tanpa berhenti (yeeeeeee *backsound tepuk tangan).

Juga, ternyata beberapa teman ikut tertarik renang pagi-pagi. Kami sempat mendirikan klub PTRB, kepanjangan dari Pria Tampan Rajin Berenang (yeah yeah yeah) beranggota tetap aku, @pokijansyah dan @aryamahdi (Wooy ayo renang lagi!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s