Rotan, Coklat, dan Kopi

“..pengimpor yang semula memesan dari China kini beralih kembali ke produsen Indonesia, setelah negeri tirai bambu itu dikabarkan kekurangan bahan baku sejak proteksi bahan baku rotan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia”

–Kompas hari kemarin (17/2/2012)

Saya bukan pelaku bisnis rotan, tapi berita ini sangat menarik. Sejak beberapa tahun lalu industri rotan kita mengalami masalah gawat, bahkan bisa dikatakan hidup segan mati tak mau karena kalah bersaing dengan China. Alasannya, jika dilihat dari sudut pandang pembeli sangat sederhana; China punya produk lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah.

Rupa-rupanya, masalah utamanya adalah ada beberapa pihak, atau perusahaan yang memilih jalur pintas tidak mau mengolah rotan ini menjadi komoditas siap pakai tapi langsung mengekspor bahan bakunya, terutama ke China. Yang terjadi kemudian sangat fatal. Ditengah permintaan dunia akan mebel rotan yang besar, supplai barang didominasi oleh China yang supplai bahan bakunya oleh Indonesia. Beberapa tahun terakhir, kita hanya jadi ladang rotan tanpa bisa mengolah dan menjualnya hasil jadinya.

Tentulah saya juga bukan analis ekonomi, tapi ini adalah berita menggembirakan. Proteksi pemerintah yang diinisiasi Gita Wirjawan atas bahan baku rotan, dilakukan pada bulan Januari 2012 dalam waktu singkat sudah membuahkan hasil. Kebijakan berani yang sempat dikecam oleh beberapa partai dengan alasan populis “mematikan petani rotan” itu sukses. Negara-negara konsumen hasil rotan kehilangan supplai dari China, dan mereka mulai mengkontak Indonesia lagi.

Artinya, pabrik-pabrik rotan Indonesia akan beroperasi kembali, dan kembali menyerap tenaga kerja. Perkebunan rotan juga tetap pulih, karena demand tetap ada, hanya berganti konsumen; yang tadinya expor ke China, sekarang dibeli oleh pabrik lokal. Indonesia juga punya posisi tawar yang bagus karena kita punya bahan baku yang bagus dan kontinyu dari dalam, menguasai 70% dari produksi rotan dunia.

Nah, berita tentang rotan ini membuat saya berpikir tentang pola yang mirip pada komoditas yang lain; Coklat dan Kopi. Indonesia adalah produsen biji kopi no.4 dunia, dan no.2 dunia untuk coklat (data Wikipedia).

Yang terjadi, dunia lebih mengenal Belgian Chocolate, dan Italian Coffee. Dan menurut saya kok ya layak saja kalau sekarang masih begitu, secara memang mereka memang jago mengolahnya menjadi komoditas yang nikmat sejak dulu, berpuluh bahkan ratusan tahun yang lalu.

Tinggal kita memproteksi ekspor biji kopi dan coklat, maka konsumen akan datang ke Indonesia. Sama dengan kasus rotan, begitu kira-kira yang sepintas ada di benak saya –mikir kalo saya di posisi Menteri Perdagangan.

Wait. Tetap saja berbeda. Kita mendominasi supplai rotan karena memang rotan hanya tumbuh di Borneo; dan tidak bisa tumbuh di belahan bumi lain. Sedangkan coklat dan kopi; masih ada Brazil, produsen no 1 kopi dan Pantai Gading untuk no 1 nya coklat. Kalau kita memberlakukan hal yang sama, malah bisa-bisa pertanian kolaps karena pangsa pasar kita dikuasai oleh negara-negara produsen lain. Ini pastinya jauh lebih kompleks. Atau tidak?

Sekarang, dengan tersedianya akses informasi melalui internet oleh semua pihak, Indonesia dengan modal Sumber Daya Alam sebenarnya mempunyai basis yang sangat kuat. Merk coklat dan kopi lokal baru mulai banyak muncul, bahkan beberapa dari Jogja. Sebutlah Cokelat Monggo, Cokelat Roso, dll. Beberapa mungkin akan mati oleh kompetisi, tapi yang lain pasti akan atau bahkan sudah menembus pasar dunia, dan merek mereka bakalan eksis hingga puluhan bahkan ratusan tahun lagi.

The bold line is, Pemerintah rupa-rupanya tidak diam saja. Dan keberhasilan kebijakan layak juga diapresiasi diantara kecaman atas sederet kekecewaan atas kebijakan lain yang mungkin konyol. Walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tapi saya melihat secara global bahwa Indonesia bergerak maju. Industri kecil, yang notabene itu adalah rakyat, juga bergerak. Kita harus terus menyadarkan diri kita bahwa Indonesia adalah satu kesatuan besar, dan kita –bukan hanya pemerintah saja– adalah bagian penting dari yang menentukan nasib bangsa ini.

Keep the optimism. For. Better. Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s