Nasi dan Remukan

Pernahkah kamu merasa hasrat untuk menulis akan sesuatu begitu kuat? Aku sedang merasakannya malam ini. Ini bukan mengenai ide besar atas sebuah bisnis, atau tentang teknologi terbaru; hal yang biasanya kupantau selalu. Ini adalah mengenai makanan yang mengambil wujud sederhana; nasi kucing dan gorengan tempe.

Bukan, ini bukan mengenai keistimewaan sambal atau cara unik penyajian. Tidak ada yang istimewa dari wujud nasi kucing ini. Tidak dibakar, tidak dipanggang, ataupun diletakkan di piring eksotik. Hanya daun dan koran bekas.

Tempe gorengnya memang enak. Selalu hangat, karena digoreng ditempat. Tapi ada yang lebih lezat, yaitu remahan tepung yang terlepas dari tubuh tempe. Remukan, itu istilah yang sering dipakai. Yang menetes duluan sesaat sebelum tempe yang diiris tipis tenggelam didalam minyak panas, setelah terbalut rata dengan adonan tepung dalam baskom seng yang berwarna hijau. Minyak panas terciprat sesekali, karena ibu penjual tidak punya waktu lama untuk pelan-pelan meletakkan tempe kedalam wajan. Banyak yang antri, dan banyak yang harus dilayani.

Tahun itu, 2001. Dua belas tahun lalu. Nasi kucing dengan sambel teri ini harganya hanya 500 rupiah, dan gorengan tempe hanyalah 250 rupiah. Porsinya cukup besar, hampir 2x nasi kucing yang ada diangkringan sekarang ini. Ah, ya. Kamu pasti bisa menebak apa istimewanya. Betul, ini mengenai kenangan masa lalu.

Kotabaru, Jogja. Tepatnya di perempatan pojokan jalan Krasak Timur dan Abubakar Ali. Dekat Stadion Kridosono. Dekat kantorku dulu, sebuah ruangan kecil “nunut” di kompleks sebuah training center. Tempat pertama kali terjun ke dunia bisnis, membuat perusahaan sendiri bersama teman-temanku. Start-up company, begitu istilah kerennya di masa-masa kini.

Di warung kecil itulah dulu hampir setiap hari nasi kucing dan gorengan menjadi menu makan siang favoritku. Alasannya sederhana saja, karena tidak ada uang untuk makan dengan berlauk daging atau telur. Ah, dan kadang-kadang gorengan pun masih terlalu mewah. Ketika hanya tersisa sedikit bensin di motor, dan hanya tersisa beberapa rupiah di kantong, aku masih bisa makan nasi, dengan remukan yang banyak. Minumnya pun cukup air putih. Hanya sebungkus nasi yang perlu kubayar; 500 rupiah saja.

Dan sungguh, waktu itu nasi kucing dan remukan adalah makanan terlezat didunia. Sesekali kugigit cabe rawit hijau sebagai pelengkap, cukup untuk menggantikan coffeemix sachet, kopi termewah di jaman itu, yang juga kadang tidak terbeli. Toh fungsinya sama saja, membuat wajah kuyu dan mata ngantuk menjadi segar kembali.

“Matur nuwun, bu..”
Dan aku sungguh-sungguh berterimakasih. Ibu penjual gorengan ini adalah salah satu penyelamat hidupku.

Bertahun-tahun kemudian, selalu ada masa ketika aku merasa harus kembali kesitu lagi, untuk sekedar menggigit gorengan dan duduk di bangku panjang itu. Kadang aku mengajak teman; sambil selalu menceritakan kenapa warung itu sedemikian spesial buatku. Tapi lebih sering kudatang sendiri, untuk menikmati remukan dan mengunyah kenangan.

Tak tentu waktunya, tapi tiap beberapa bulan sekali aku pasti datang ke warung itu, ketika ingatan atas momen itu datang menyerang.

Ibu penjual selalu heran ketika kadang kuselipkan uang beberapa kali lipat dari yang seharusnya kubayar. Ah bu, kenangan ini mahal sekali, tidak terbayar harganya. Dan dulu aku pernah ambil gorengan dan tidak kubayar, bu. Lupa, kalau uangku sebenarnya kurang.

Hingga pada sebuah hari di 2 atau 3 tahun lalu, ketika aku datang ke pojokan jalan itu, dan tidak ada lagi warung gorengan. Lalu aku datang lagi beberapa hari kemudian, berharap bahwa ibu penjual hanya libur sebentar, tapi warung itu entah kemana. Tidak ada lagi. Bahkan gerobak yang biasanya ada dipojokan dantidak pernah pergi itu pun sudah lenyap, menyisakan jejak roda dan kaki-kaki meja.

Lalu aku menjadi cengeng. Ada air mata menitik disudut mataku. Aku kangen remukan.

Jogja, Mei 2013.

A Birthday Note.

Pagi ini saya terbangun, lalu membaca banyak sekali ucapan selamat. Sms, Bbm, Whatsapp, dan segala social media yang terhubung di gadget dan muncul di notifikasi.

Bulan ke-empat tahun 2013. Diantara beberapa target yang rupa-rupanya meleset waktunya, serta berbagai peristiwa yang telah terjadi di ujung tahun lalu dan awal tahun ini, saya berulang tahun. Yang ke 32. Sebuah usia yang sangat relatif. Buat generasi yang lahir setelah 2000, tentunya saya tampak ‘dewasa’. Buat generasi 70-80an, ya saya masih muda :D

Hidup ini buat saya bagaikan perjalanan jauh yang harus ditempuh dengan jalan kaki, dengan kualitas jalan yang tidak konsisten. Kadang aspal mulus, kadang setapak sempit, atau malah ngga ada jalan sama sekali. Ya harus bikin sendiri. Banyak batu didepan yang kadang harus ditendang atau disingkirkan, belukar yang harus ditebas, agar tetap bisa terus maju.

Parahnya, jalan ini tidak terlihat ujungnya, dan visibilitynya juga ngga tentu. Kadang keliatan jelas jalannya sampai beberapa puluh kilometer didepan, kadang kabut tebel dan cuman bisa lihat 2-3 meter kedepan. Kalau pas jelas, bisa sambil lari kencang, tapi kalo ngga keliatan, ya harus jalan pelan dan berimajinasi, kemana arah jalan ini dan akan dimana langkah kaki berikutnya dipijakkan.

Ulang tahun, tampak seperti sebuah penanda di jalan ini. Kadang bentuknya adalah tonggak dengan tanda yang jelas. Kadang hanya terlihat sebagai pola samar, tapi familiar.

Ulang tahun seperti time marker pada sebuah sportwatch. Mengingatkan atas berapa waktu yang sudah ditempuh dengan memberi nada menyebalkan, dan membacakan seberapa cepat dan seberapa jauh saya berjalan di jalan yang tak berujung ini.

Dan segala ucapan ulang tahun yang saya terima pagi ini, yang masih mengalir deras, bagaikan tepukan bertubi-tubi di punggung saya. Mengingatkan saya untuk terus maju, berlari. Menyadarkan bahwa banyak wajah familiar dijalan ini. Teman-teman dan saudara yang selalu mengulurkan tangan ketika setapak menjadi terjal, dan kabut menjadi tebal.

Thanks for all the birthday wishes. This is a morning of joy I will always remember time to time.

Mlayu sak plinthengan (3)

Weight loss.

Ini menjadi alasan terakhir, dan ternyata poin ini sangat berpengaruh dalam membuatku konsisten berolahraga. Secara dalam bisnis kuliner yang aku jalani, jelas ngga mungkin membatasi varian makanan. Ada ratusan lebih menu di resto yang kumiliki, dan sebagai penganut faham “you are your business”, aku harus bisa merasakan dari sudut pandang konsumen; yang artinya semua makanan paling tidak pernah kucoba.

Syndrom “foodtest” juga sangat berpengaruh; terutama ketika buka resto baru, tiap hari random check menu, sebagai proses quality control yang harus dilakukan. Dan pasti sayang kalau sekedar icip-icip basa-basi. Ya pasti habis :D

Well, I practically anything that served on a plate. Ngga heran kalau berat badanku tahun kemarin (2011) pernah mencapai 87kg. Apalagi ternyata tipe metabolismeku juga cepet banget menimbun daging dan lemak. Tinggiku 177cm, jadi ya gitu, ipel-ipel bentuknya :|

Setelah mulai lari, dalam waktu 2-3 bulan pertama langsung turun 5kg. Dan terus turun hingga sekarang ini 77kg, alias udah turun 10kg; walaupun belum mencapai berat ideal sesuai itungan Body Mass Index yaitu 74kg. Lumayan lah, tinggal kurang 3kg lagi.

Triknya, aku punya timbangan digital yang bisa membaca hingga akurasi 100gram atau 1 ons, diletakkan di kamar ganti. Tiap pagi aku nimbang, sore habis mandi nimbang, pokoknya tiap masuk kamar ganti otomatis nimbang. I’m a weight scale freak now ;p

Dengan adanya timbangan tersebut, bisa terbaca bahwa ternyata setiap kali aku lari 5km, maka beratku berkurang sekitar 500-800gr. Pola makan otomatis juga berubah, karena aku tetap makan enak dan banyak; tapi tidak sesering dulu. Sarapan yang tadinya pasti nasi diganti dengan muesli+susu+honey, walaupun tidak tiap hari. Well then, if you want to eat like a king, you must run like a bandit.

Eh wait wait, ini bukan sebuah artikel motivasi menurunkan berat badan. Kalau yang begituan coba hubungi ahli gizi terdekat — asal bukan yang berlogo “NAIK/TURUN BERAT BADAN 2-20kg” itu yaa..

Kemarin ketika libur natal, kami sekeluarga pergi ke Magelang, nginep di Puri Asri. Seperti layaknya liburan, pasti diisi dengan makan-makan yang yak-yak-an. Ini pun sebenarnya sudah direm dengan tetep renang muterin kolam renangnya 15x putaran tiap hari. Tetep saja sih ya, kalo makan sehari 3x @ 3 porsi ya ngga sebanding kalori masuk sama keluar.

Begitu sampai Jogja lagi, langsung ketemu timbangan dan didapatlah tambahan daging sebesar 2kg :) ) Termotivasi lari dan dalam 5 hari udah turun 1.5kg. Fyuh.

That’s it. Ini adalah seri terakhir dari trilogi Mlayu Sak Plinthengan (uopoooh). Sekarang ini aku mulai training buat Triathlon pertamaku di Bali untuk Juni 2013. Masih ada waktu 6 bulan kedepan. Lha malu doong sama bio di twitter kalo ngga segera dijalanin :) Doakan yaaaa..

Mlayu sak plinthengan (2)

Ray Kurzweil. Itu alasan kedua aku berlari. Seperti banyak orang yang tetiba menjadi ingin menjadi entrepreneur setelah membaca Rich Dad Pood Dad-nya Kiyosaki, aku ingin menjadi sangat sehat dalam menyambut Singularity. Titik baliknya adalah setelah saya membaca artikel di Time Magazine ini >> 2045: The Year Man Becomes Immortal

Call me insane, utopist or anything else. But I believe in immortality. I believe that human kind, in the near future–yes, in OUR lifespan–will able to live forever. As near as 2045. That means 33 years from now. And we will probably be the first generation of immortals. Don’t believe what I believe? Well, that kinda okay. Kita tetep temenan kok :D

Tentu aku bisa salah. But they said that if we aim to the moon, the worst thing if we miss is we hit the star ;)

Secara fisik, ada 2 fase transformasi yang telah ku alami. Errr .. maksudku selain lahir, sunat dan kehilangan keperjakaan lho ya *_*

Yang pertama adalah tahun 2006, ketika aku berhenti merokok. Pemicunya adalah hasil rontgen dari dokter setelah medical check up.

“Ini apa dok?” Sambil nunjuk ke hasil rontgen.
“Ini tuh pembuluh darah yang membesar. Anda merokok ya?”
“Iya”
“Ya gitu. Kalau paru-paru normal hasilnya ngga begini.”
“Duh, trus kalo saya berhenti merokok, trus bisa normal lagi?”
“Ya enggak juga.”
“…..”

Semenjak itu, pet. Sama sekali aku ngga menyentuh rokok lagi. Sebatang pun. Sampai sekarang ini, yang berarti sudah lebih dari 6 tahun.

Percayalah padaku. Setelah berhasil menghilangkan kebiasaan merokok, aku berasa bisa berpikir lebih jernih, lebih cepat, dan lebih tepat (koyo tagline kampanye bupati yo).

Bukan, bukan. Ini bukan artikel motivasi untuk berhenti merokok. Masih banyak teman-temanku yang merokok dan aku ngga keberatan atas itu. Hanya saja, aku akan sangat berterimakasih jika ada teknologi yang memungkinkan asap rokok itu ditelan saja, pun ketika harus dikeluarkan bisa dalam wujud entut pada ruangan privat, jadi ngga perlu terhirup oleh orang lain yang tidak merokok.

Transformasi kedua adalah ketika aku mulai berolahraga rutin. Berenang. Waktu itu adalah akhir 2010, saat aku bersama Jack @dianjackariya berencana “menghilang” dari peradaban beberapa hari dengan menginap di pulau Sempu – biar kayak di filem The Beach-nya Leonardo diCaprio gitudeh.

Dua bulan sebelum hari H, aku sadar kalo kemampuan berenang-ku waktu itu sangat minimalis. Hanya kuat kira-kira 10 meter nonstop. Dan itu ngga sampe sak plinthengan :( Padahal bayangan kami, cara bertahan hidup adalah dengan menangkap ikan dengan alat-alat yang kita buat sendiri. Nah gimana mau bertahan hidup coba, kalau renang aja ngga lancar?

Mulailah aku berenang (hampir) tiap hari. Dari yang tadinya hanya kuat 10m, lama-lama aku bisa muter kolam renang tanpa berhenti.

Malam sebelum hari H, Jack mengabarkan kalau dia tidak jadi berangkat, dan otomatis rencana ke Sempu gagal. Lha iya masak sendirian, aku ngga berani je.. Penyebabnya kenapa Jack ngga jadi berangkat masih misteri hingga sekarang :(

Tapi tidak mengapa, kebiasaan renangku itu (pastinya) juga membuatku merasa metabolisme tubuh jadi berbeda. Lagi-lagi, aku menjadi bisa berpikir lebih jernih, lebih cepat dan lebih tepat (another tagline, yeah). Sekarang aku bisa muter kolam renang UNY yang bagian dalem itu 30x tanpa berhenti (yeeeeeee *backsound tepuk tangan).

Juga, ternyata beberapa teman ikut tertarik renang pagi-pagi. Kami sempat mendirikan klub PTRB, kepanjangan dari Pria Tampan Rajin Berenang (yeah yeah yeah) beranggota tetap aku, @pokijansyah dan @aryamahdi (Wooy ayo renang lagi!)

Mlayu sak plinthengan (1)

Sudah hampir setahun ini seingatku, dari awal pertama kali aku mulai lari. Sakplinthengan wae wis menggeh-menggeh. Kalau diterjemahkan, plinthengan artinya ketapel. Sak plinthengan adalah satuan imajiner jarak terjauh proyektil batu yang ditembakkan dengan media ketapel. Konversi bebasnya yaaa sekitar 200m lah. Sependek itu jaraknya pun aku harus sudah berhenti karena kehabisan napas.

Masih ingat sekali momen ketika awal pertama kali jogging. Aku selalu memilih jalan yang sepi, sepagi mungkin. Alasannya adalah: kalau lari cuman bentar trus berhenti, ketahuan orang malu kan :p Sempat aku hampir putus asa, karena setelah beberapa kali mencoba berlari, pasti akan berhenti pada beberapa ratus meter pertama. Bar kuwi mandeg. Grek. Entek ambegane. Ngok.

Seperti kata pepatah, Google adalah guru terbaik. Ternyata kemudian aku sadar bahwa caraku berlari yang waton biyanter itu salah. Harusnya newbie kayak aku itu pelan-pelan saja larinya, tapi jangan berhenti-berhenti dulu. Oke deh, aku coba.

Dan teknik itu ternyata berhasil.

Setelah sekian minggu, jarak lariku bertambah menjadi 1km, lalu 2km dan dalam 3 bulan aku bisa berlari sampai 3km nonstop. Aku mulai ketagihan berlari, sampai sekarang rekorku berlari nonstop adalah 8km, dan akan terus nambah lagi sampai bisa ikut event marathon. Amin.

Wait. Ini bukan artikel tentang motivasi. Kalau cerita tentang motivasi nonton acaranya Mario Teguh aja ya :p Bukan keberhasilanku yang ingin tak ceritakan. Aku mau cerita tentang satu dua alasan kenapa aku mulai lari.

Waktu itu sekitar Agustus tahun 2011. Aku dapet kabar kalau kakak laki-lakiku yang no 3 harus dirawat di RS Harapan Kita karena gangguan jantung, yang kemudian akhirnya harus menjalani operasi karena kelainan pada jantungnya tersebut.

Oh well, that’s bad.

Tapi yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kakak laki-lakiku yang no 2, awal 2012 ternyata juga mengalami gangguan. Beda keluhan, beda kelainan, tapi sama obyeknya; Jantung.

Dan akhirnya dijadwalkanlah kakakku ini juga operasi Jantung juga dalam waktu dekat.

Aku anak bungsu dari 6 bersaudara, dengan 3 laki-laki dan 3 wanita.

2 dari 3 laki-laki itu mengalami kelainan jantung dan harus menjalani operasi. Aku tidak mau menjadi yang ketiga. Itulah alasan pertama kenapa aku tidak mau hanya bisa mlayu sak plinthengan thok. Alasan yang lain akan kuceritakan pada post selanjutnya (semoga).

Dragon Balls, Saiyan, Augmented Reality, dan masa depan kita. (repost 2009)

Artikel ini ditulis pada tanggal 24 Agustus 2009 pada FaceBook Notes ini >> http://www.facebook.com/note.php?note_id=249967495721

Alasan repost adalah karena ini sudah akhir maret dan kalau saya tidak posting bulan ini bakalan kosong deh kolom bulan Maret 2011 saya :/

———

Apa yang akan anda lakukan ketika anda seorang turis lokal yang butuh informasi mengenai gunung Merapi; berapa tingginya, bagaimana akses naiknya, serta siapa yang bisa memandu mendakinya?

1989 — Tanya penduduk lokal
1999 — Cari telpon umum kartu trus tanya temen?
2009 — Find it on Google mobile. Masuk ke google.com di hape, trus tinggal masukin aja keyword “Merapi info”. Beres.

Okay. Next question: Anda di Thailand, tidak punya guide dan semua papan penunjuk dalam huruf Thai. Ada sebuah bangunan berbentuk pagoda didepan anda, yang membuat anda penasaran setengah mati ingin tahu sebenarnya bangunan apa ini? Apa yang anda lakukan?

1989 — Tanya penduduk lokal
1999 — Tanya penduduk lokal
2009 — Tanya penduduk lokal? Yaa — mungkin butuh beberapa saat dengan bahasa tarzan, dan infonya mungkin ngga valid juga. Tapi kalau udah ketahuan nama bangunannya kan tinggal di search di Google lagi. Beres.

———-

Ingat komik Dragon Balls?

Singkatnya, komik ini menceritakan tentang seorang anak — rada mirip monyet karena punya ekor — yang belakangan diketahui datang dari Planet Saiya. Cerita berkembang ketika orang-orang suku Saiya datang dan berniat menginvasi bumi. Goku — nama anak tersebut berjuang menyelamatkan umat manusia.

Bagi penggemar komik ini pasti mengenal scouter, nama gadget Suku Saiya yang berbentuk visor –kacamata yang hanya separoh saja — untuk berkomunikasi antar saiyan dan mengukur berapa kekuatan makhluk hidup.

Kalau manusia (khususnya Indonesia – Jawa) punya motto hidup “urip ki mampir ngombe”, mungkin motto Saiyan (orang suku Saiya) adalah “urip ki mampir gelut”. Nah, karena mereka setiap saat bisa bertemu musuh dan bertarung, maka Scouter sangatlah penting untuk mengukur kekuatan lawan. Maksudnya kalau lawannya lebih lemah ya bisa jadi lebih pede buat nantangin gitu; tapi kalo musuh lebih kuat ya agar bisa nyusun strategi ‘nyang-nyangan’ atau malah kabur..

Scouter

Konsep Scouter adalah menampilkan informasi tambahan yang tidak bisa didapatkan dari mata telanjang mengenai lawan. Ketika Saiyan yang memakai Scouter melihat ke seseorang maka yang sampai ke mata dia adalah gambar orang tersebut (real world) dan tambahan informasi berupa angka yang menunjukkan berapa kekuatan lawan (computer generated data).

Inilah awal dari konsep Augmented Reality. Dan inilah masa depan kita.

Kini, manusia modern sudah terfasilitasi dengan informasi yang luar biasa komplit dari Internet. Beberapa tahun yang lalu informasi-mengenai-apapun itu sudah ada, tapi kita kesulitan mendapatkan informasi tersebut, hingga kemudian Yahoo — dan kemudian Google dengan portal search engine nya memudahkan sangat; hingga muncul terminologi mBah Google Yang Maha Tahu.

Saya tidak bisa lagi hidup tanpa internet, khususnya search engine, dan lebih khusus lagi Google. Dan saya yakin sekali banyak teman-teman yang sama kasusnya dengan saya. Tapi masih ada kelemahan dari search engine — dia masih membutuhkan keyword. Pada kasus dimana kita hilang arah, atau bahkan tidak yakin akan nama sesuatu yang ingin anda ketahui infonya, search engine menjadi mandul.

Augmented reality adalah informasi detil mengenai sesuatu yang ditambahkan sebagai layer tambahan pada informasi dunia nyata. In other words, augmented reality is the real world blended with virtual reality. Sudah kita bahas diatas tadi; contohnya adalah Scouter di Dragon Balls.

Ada minimal 5 elemen penting yang menjadi syarat Augmented Reality, yaitu adanya (1) GPS, (2) Digital Compass, (3) Camera, (4) Display, (5) Koneksitas data ke sumber informasi.

Android Device

Nah, perangkat yang mendukung Augmented Reality yang sekarang sudah dikembangkan dan sudah diluncurkan adalah lansiran dari HTC dengan Operating System Android (dari Google). Adapun software yang mendukung salah satunya adalah wikitude (www.wikitude.org) yang cara kerjanya adalah:

- Dengan GPS, mengidentifikasi posisi pengguna
- Dengan digital compass; mengidentifikasi kearah mana gadget itu diarahkan
- Kamera menangkap object yang akan diketahui info detilnya
- Device mengidentifikasi koordinat object tersebut dan mendownload informasi dari Wikipedia — atau sumber data yang lain
- Data ditampilkan di display — overlay dengan object sesungguhnya.

Prediksi saya, software augmented reality akan bisa diinstall pada semua smartphone hi-end keluaran tahun 2010. Sekarang ini yang bisa mendukung barulah Iphone 3G[S] dan jajaran HTC dengan Android OS.

Jika Wikipedia memberikan informasi bahwa konsep Augmented Reality ditemukan pada 1990 oleh Thomas Caudell ( http://en.wikipedia.org/wiki/Augmented_reality ), maka saya dengan lantang menyanggahnya!

Pada tahun 1984 — 6 tahun sebelum Thomas Caudell bicara tentang Augmented Reality — konsep ini sudah ditemukan dan diaplikasikan dalam Dragon Balls oleh pengarangnya, Akira Toriyama.

——-

Anda di Thailand, tidak punya guide dan semua papan penunjuk dalam huruf Thai. Ada sebuah bangunan berbentuk pagoda didepan anda, yang membuat anda penasaran setengah mati ingin tahu sebenarnya bangunan apa ini? Apa yang anda lakukan?

2009 akhir — point your AR gadget to that pagoda, and read the detailed info on the display.

Rotan, Coklat, dan Kopi

“..pengimpor yang semula memesan dari China kini beralih kembali ke produsen Indonesia, setelah negeri tirai bambu itu dikabarkan kekurangan bahan baku sejak proteksi bahan baku rotan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia”

–Kompas hari kemarin (17/2/2012)

Saya bukan pelaku bisnis rotan, tapi berita ini sangat menarik. Sejak beberapa tahun lalu industri rotan kita mengalami masalah gawat, bahkan bisa dikatakan hidup segan mati tak mau karena kalah bersaing dengan China. Alasannya, jika dilihat dari sudut pandang pembeli sangat sederhana; China punya produk lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah.

Rupa-rupanya, masalah utamanya adalah ada beberapa pihak, atau perusahaan yang memilih jalur pintas tidak mau mengolah rotan ini menjadi komoditas siap pakai tapi langsung mengekspor bahan bakunya, terutama ke China. Yang terjadi kemudian sangat fatal. Ditengah permintaan dunia akan mebel rotan yang besar, supplai barang didominasi oleh China yang supplai bahan bakunya oleh Indonesia. Beberapa tahun terakhir, kita hanya jadi ladang rotan tanpa bisa mengolah dan menjualnya hasil jadinya.

Tentulah saya juga bukan analis ekonomi, tapi ini adalah berita menggembirakan. Proteksi pemerintah yang diinisiasi Gita Wirjawan atas bahan baku rotan, dilakukan pada bulan Januari 2012 dalam waktu singkat sudah membuahkan hasil. Kebijakan berani yang sempat dikecam oleh beberapa partai dengan alasan populis “mematikan petani rotan” itu sukses. Negara-negara konsumen hasil rotan kehilangan supplai dari China, dan mereka mulai mengkontak Indonesia lagi.

Artinya, pabrik-pabrik rotan Indonesia akan beroperasi kembali, dan kembali menyerap tenaga kerja. Perkebunan rotan juga tetap pulih, karena demand tetap ada, hanya berganti konsumen; yang tadinya expor ke China, sekarang dibeli oleh pabrik lokal. Indonesia juga punya posisi tawar yang bagus karena kita punya bahan baku yang bagus dan kontinyu dari dalam, menguasai 70% dari produksi rotan dunia.

Nah, berita tentang rotan ini membuat saya berpikir tentang pola yang mirip pada komoditas yang lain; Coklat dan Kopi. Indonesia adalah produsen biji kopi no.4 dunia, dan no.2 dunia untuk coklat (data Wikipedia).

Yang terjadi, dunia lebih mengenal Belgian Chocolate, dan Italian Coffee. Dan menurut saya kok ya layak saja kalau sekarang masih begitu, secara memang mereka memang jago mengolahnya menjadi komoditas yang nikmat sejak dulu, berpuluh bahkan ratusan tahun yang lalu.

Tinggal kita memproteksi ekspor biji kopi dan coklat, maka konsumen akan datang ke Indonesia. Sama dengan kasus rotan, begitu kira-kira yang sepintas ada di benak saya –mikir kalo saya di posisi Menteri Perdagangan.

Wait. Tetap saja berbeda. Kita mendominasi supplai rotan karena memang rotan hanya tumbuh di Borneo; dan tidak bisa tumbuh di belahan bumi lain. Sedangkan coklat dan kopi; masih ada Brazil, produsen no 1 kopi dan Pantai Gading untuk no 1 nya coklat. Kalau kita memberlakukan hal yang sama, malah bisa-bisa pertanian kolaps karena pangsa pasar kita dikuasai oleh negara-negara produsen lain. Ini pastinya jauh lebih kompleks. Atau tidak?

Sekarang, dengan tersedianya akses informasi melalui internet oleh semua pihak, Indonesia dengan modal Sumber Daya Alam sebenarnya mempunyai basis yang sangat kuat. Merk coklat dan kopi lokal baru mulai banyak muncul, bahkan beberapa dari Jogja. Sebutlah Cokelat Monggo, Cokelat Roso, dll. Beberapa mungkin akan mati oleh kompetisi, tapi yang lain pasti akan atau bahkan sudah menembus pasar dunia, dan merek mereka bakalan eksis hingga puluhan bahkan ratusan tahun lagi.

The bold line is, Pemerintah rupa-rupanya tidak diam saja. Dan keberhasilan kebijakan layak juga diapresiasi diantara kecaman atas sederet kekecewaan atas kebijakan lain yang mungkin konyol. Walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tapi saya melihat secara global bahwa Indonesia bergerak maju. Industri kecil, yang notabene itu adalah rakyat, juga bergerak. Kita harus terus menyadarkan diri kita bahwa Indonesia adalah satu kesatuan besar, dan kita –bukan hanya pemerintah saja– adalah bagian penting dari yang menentukan nasib bangsa ini.

Keep the optimism. For. Better. Indonesia.